Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sepakat akan terus mencermati dampak tekanan ekonomi global akibat perang di Timur Tengah. Dampak dari kondisi itu diwaspadai berdampak terhadap ekonomi domestik.
Demikian hasil rapat berkala KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, serta Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.
"Global masih penuh ketidakpastian, kita akan waspadai terus untuk ekonomi domestik," kata Purbaya dalam konferensi pers di Menara Radius Prawiro, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Purbaya, dinamika penyelesaian konflik Timur Tengah masih menjadi faktor utama volatilitas pasar keuangan global, terutama terhadap lonjakan harga energi. Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK sepakat akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini.
"KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur BI, Ketua Dewan Komisioner OJK dan Ketua Dewan Komisioner LPS akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat," ucap Purbaya.
Selain itu, Purbaya menyebut upaya mitigasi secara terkoordinasi akan dilakukan baik antar lembaga anggota KSSK maupun dengan kementerian dan lembaga (K/L) lain.
"Kita lihat triwulan pertama pertumbuhan cukup bagus 5,61%, tetapi kita akan melihat seperti apa di triwulan II tahun ini. Kita waspadai semua kendala yang mungkin timbul dan kita melihat semua hal-hal makro yang ada," imbuhnya.
Tonton juga video "Dolar AS Tembus Rp 17.400, Gubernur BI-Purbaya Dipanggil ke Istana"
(aid/fdl)










































