ADB Siapkan Rp 521 Triliun buat Negara ASEAN hingga 2030

ADB Siapkan Rp 521 Triliun buat Negara ASEAN hingga 2030

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 09 Mei 2026 22:18 WIB
ADB: Prospek Ekonomi Asia Ditopang Pertumbuhan Kuat Cina dan India
Ilustrasi.Foto: DW (News)
Jakarta -

Asian Development Bank (ADB) menyiapkan dana US$ 30 miliar atau sekitar Rp 521,10 triliun (kurs Rp 17.370/US$) hingga 2030. Dana ini untuk membantu negara ASEAN memperkuat prioritas pembangunan jangka panjang dan menghadapi guncangan eksternal.

ADB menyebut paket pendanaan tersebut akan difokuskan pada lima inisiatif utama kawasan, termasuk US$ 6 miliar atau Rp 104,22 triliun untuk memperdalam pasar modal dan US$ 5 miliar atau Rp 85,86 triliun guna mempercepat proyek ASEAN Power Grid.

Pendanaan untuk ASEAN Power Grid merupakan bagian dari komitmen ADB yang sebelumnya mencapai hingga US$ 10 miliar sampai 2035. Selain itu, dana juga akan digunakan untuk mendukung kesiapan kecerdasan buatan (AI), pengembangan ekonomi biru, serta penguatan ketahanan sungai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden ADB Masato Kanda mengatakan ASEAN memiliki prioritas dan ambisi yang jelas, namun tantangan utamanya kini adalah implementasi di tengah meningkatnya krisis global, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga guncangan ekonomi.

"Sebagai bank utama kawasan, ADB menyalurkan pendanaan, keahlian, serta pipeline investasi sektor publik dan swasta senilai US$30 miliar untuk mendukung prioritas ASEAN dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat kawasan," uja Masato dalam KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, dilansir dari Bernama, Sabtu (9/5/2026).

ADVERTISEMENT

Kanda juga menyoroti gangguan ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah dan menyatakan kesiapan ADB membantu kawasan menghadapi dampak terhadap rantai pasok.

"Untuk menstabilkan ekonomi yang menghadapi tekanan fiskal, ADB menyediakan dukungan anggaran yang dapat dicairkan cepat serta kembali mengaktifkan sementara dukungan sektor swasta untuk impor minyak melalui program pembiayaan perdagangan dan rantai pasok," tutup Kanada.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads