Purbaya Ramal Ekonomi Kuartal II Belum 6%, Ogah Terapkan Pajak Baru

Purbaya Ramal Ekonomi Kuartal II Belum 6%, Ogah Terapkan Pajak Baru

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 11 Mei 2026 12:14 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers terkait kebijakan transportasi dan BBM di Jakarta, Senin (6/4/2026). Pemerintah memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026 guna menjaga stabilitas ekonomi
Menkeu Purbaya Ramal Ekonomi Q2 Belum 6% / Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia belum bisa mencapai 6% pada kuartal II-2026. Meskipun pada kuartal I-2026 mampu tumbuh 5,61%.

Purbaya mengatakan tidak akan ada pajak baru jika pertumbuhan ekonomi belum mencapai 6% dalam dua kuartal berturut-turut.

"Pertumbuhan ekonomi 5,61% kan belum 6% dan belum stabil di 6%. Let say kalau dua kuartal berturut-turut di atas 6%, kita akan pertimbangkan pajak-pajak yang lain," kata Purbaya dalam media briefing di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Triwulan II kita dorong ke arah sana (6%), tetapi saya rasa belum 6%, mendekati sana lah. Saya tunggu sampai agak stabil sedikit lah," tambah Purbaya.

ADVERTISEMENT

Khusus rencana penunjukan platform e-commerce dalam negeri sebagai pemungut pajak atas transaksi penjualan barang oleh merchant yang berjualan di platform mereka, Purbaya akan menunggu data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026. Jika kinerjanya tumbuh dalam tren positif, kebijakan tersebut akan mulai diterapkan.

Purbaya menjelaskan kebijakan tersebut diambil untuk menindaklanjuti keluhan dari pedagang offline lantaran barang-barang yang berasal dari China membanjiri pasar e-commerce.

"Untuk pajak-pajak misalnya online, approach-nya adalah untuk membuat yang offline bisa lebih bersaing. Waktu saya ke pasar-pasar, mereka (pedagang) bilang 'Pak yang online dipajaki seperti kami supaya kami bisa bersaing dengan lebih kompetitif'. Itu saya pikir komplain yang masuk akal," imbuh Purbaya.

"Kalau stabil 6% mendekati itu, baru kita jalankan," imbuh Purbaya.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads