Jumlah utang masyarakat pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater terus meningkat dari waktu ke waktu. Mencerminkan ketergantungan masyarakat pada utang untuk bertahan hidup.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai di balik peningkatan jumlah utang pada kedua layanan itu, tentu ada risiko yang tidak boleh dianggap sepele. Semisal bunga utang yang kerap menjadi beban pengeluaran tambahan bagi para debitur.
Di mana beban pengeluaran tambahan dari bunga pinjaman ini membuat daya beli kian Melemah. Pelemahan daya beli ini kemudian memaksa debitur utang berutang lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan siklus 'gali lubang tutup lubang'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau lihat growth-nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha," kata Tauhid kepada detikcom, Senin (11/5/2026).
Masalahnya siklus ini tak bisa menjadi solusi jangka panjang bagi masyarakat. Sebab menurutnya bergantung pada utang untuk bertahan hidup tidak berkelanjutan mengingat rata-rata kenaikan pendapatan tahunan tidak sebesar inflasi atau peningkatan biaya hidup.
"Konsumsi rumah tangga berbasis utang itu tidak sehat karena dia harus membayar bunga utang di bulan-bulan berikutnya. Tetapi pendapatan dia itu kan pertumbuhan kenaikan income-nya tidak sebesar bunga utangnya sehingga konsumsi dia melalui pinjaman online itu menjadi tidak sehat," ujar Tauhid.
Senada, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira juga mengatakan penggunaan utang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga berisiko menjebloskan pengguna layanan ke dalam siklus utang.
"Masyarakat akan terjebak ketergantungan utang yang konsumtif, ketika kesulitan mencicil akan tergoda meminjam lagi dari platform lainnya," ucap Bhima.
"Kenaikan paylater ini bukan indikator pertumbuhan kredit yang berkualitas, justru menunjukkan kerentanan. Begitu terjadi sudden shock pada ekonomi, NPL dari paylater akan naik lebih tajam dari jenis kredit modal kerja dan kredit produktif lainnya," tambahnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, alih-alih membantu masyarakat bertahan hidup, pada akhirnya siklus untang pinjol dan paylater ini membawa mereka masuk dalam kelompok miskin secara struktural.
"Bisa jatuh ke kemiskinan secara struktural, karena pinjaman konsumtif tidak sesuai dengan kebutuhan. Gagal bayar sangat mungkin terjadi dan aset di gadaikan untuk melunasi pinjaman," tambahan.
(igo/fdl)










































