China Dikabarkan Bikin Peternakan Ayam Rp 1,4 T, Kementan Buka Suara

China Dikabarkan Bikin Peternakan Ayam Rp 1,4 T, Kementan Buka Suara

Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2026 17:23 WIB
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Agung Suganda
Foto: Retno Ayuningrum
Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kamar Daging dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan penjelasan terkait investor asal China disebut mau investasi ke industri peternakan ayam petelur nasional. Disebutkan, nilai investasinya sekitar Rp 1,4 triliun untuk pembangunan peternakan ayam petelur di rantai hulu, mencakup pembangunan breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Suganda sudah melakukan pertemuan dengan pihak Kadin terkait informasi tersebut hari ini. Agung meminta penjelasan kepada Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Peternakan, Cecep M. Wahyudin.

"Kemudian juga pada rapat hari ini juga termasuk mengklarifikasi terkait dengan pemberitaan, yang mana ada rencana investor China yang akan melakukan investasi di peternakan ayam petelur. Tadi juga sudah dijelaskan oleh Pak Cecep dari perwakilan dari Kadin," ujar Agung usai melakukan rapat dengan asosiasi dan peternak di kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta Selatan, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam keterangannya, Agung menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan peternak rakyat dalam pengembangan industri perunggasan nasional. Pemerintah memastikan investasi perunggasan harus memberikan manfaat nyata bagi peternak dalam negeri, memperkuat produksi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga ketahanan pangan.

ADVERTISEMENT

Agung menegaskan pembangunan subsektor peternakan harus dilakukan secara terukur melalui penguatan kemitraan nasional yang melibatkan peternak rakyat, koperasi, pelaku usaha lokal, dan BUMN sektor pangan.

Pemerintah membuka ruang investasi, namun investasi tersebut harus memperkuat struktur industri nasional dari hulu hingga hilir dan tetap mengutamakan kepentingan peternak dalam negeri.

"Kita ingin industri ini tumbuh sehat. Karena itu pemerintah mendorong model kemitraan yang melibatkan pelaku lokal, peternak rakyat, dan BUMN sebagai bagian dari penguatan rantai pasok nasional," kata Agung.

Sementara itu, WKU Kadin bidang Peternakan Cecep M. Wahyudin menilai pemberitaan yang ada selama ini terlalu dini dan jauh dari kenyataan lapangan. Menurut ia, posisi Kadin Indonesia sebagai pintu masuk para investor maupun pelaku usaha sehingga menerima siapapun tamu yang datang.

Ia menjelaskan rencana investasi tersebut masih dalam tahap sosialisasi. Saat ini, tidak ada rencana pengembangan lebih lanjut.

"Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana atau keinginan investor dan delegasi dari China yang berminat untuk masuk ke Indonesia untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia. Jadi masih tahap sosialisasi," ujar Cecep.

Ia menegaskan pihaknya memahami permintaan dan penawaran di lapangan. Untuk itu, Cecep menilai Kadin paham hal-hal yang harus diprioritaskan.

Ia memberikan contoh pada saat kunjungan kerja ke Singapura menjajaki kemungkinan ekspor telur. Sebab, selama ini Singapura impor telur hanya dari Malaysia dan beberapa negara Asia lainnya.

"Kemudian juga Kadin beserta dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya bagaimana mempercepat dan memperbesar peternak rakyat, jadi antara berita dan kenyataan ini sangat jauh dari kenyataan," jelas ia.

Sebelumnya, Kadin Indonesia bersama Kadin Provinsi Aceh telah menerima kunjungan The China Egg Industry Chain Business Delegation pada 21 April 2026. Pertemuan tersebut membahas kerja sama bertajuk Strategic Orchestration of China's Agrotechnology Ecosystem for Strengthening the Supply Chain of MBG Sumatra Corridor.

Rencana kerja sama ini menargetkan investasi sekitar Rp 1,4 triliun untuk pembangunanpeternakan ayam petelur di rantai hulu, mencakup pembangunan breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur di Provinsi Aceh dengan menggandeng peternak mandiri/rakyat untuk membentuk ekosistem industri peternakan terintegrasi secara horizontal.

Cecep mengatakan pertemuan tersebut hanya berfokus pada investasi dan transfer teknologi di sektor ayam petelur, khususnya di wilayah Aceh. Ia memastikan, perusahaan China yang melakukan audiensi dengan Kadin Indonesia, tidak menjadi integrator vertikal di industri peternakan ayam petelur di Indonesia.

Ada regulasi yang mengatur hal ini, yakni aturan tentang pembatasan integrasi vertikal sebagaimana termaktub dalam UU NO.5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Dalam UU ini disebutkan, tidak boleh ada perusahaan integrator yang menguasai rantai bisnis dari hulu hingga hilir. Regulasi lain adalah Permentan No.32/2017 terkait Pengendalian-Supply-Demand. Perusahaan China ini diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi peternakan melalui konsep integrasi horizontal khususnya di industri peternakan ayam petelur yang telah digagas dan direncanakan sejak Rapimnas Kadin di akhir tahun 2024.

Penggunaan teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk peternakan adalah salah satu program unggulan Kadin Bidang Peternakan dan bahkan saat ini telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Protein, kolaborasi antara Kementerian Koperasi, Kadin Indonesia, dan HKTI.

"Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga terbentuk kedaulatan pangan di masing-masing wilayah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Cecep dalam keterangannya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads