Pemerintah India meminta warganya setop emas selama satu tahun, di tengah tekanan ekonomi akibat perang AS-Israel dengan Iran. Seruan ini disampaikan Perdana Menteri (PM) Narendra Modi pada 10 Maret lalu.
"Demi kepentingan negara, kita harus memutuskan bahwa selama setahun, meskipun ada acara di rumah, kita tidak akan membeli perhiasan emas," ujar Modi dikutip dari BBC Indonesia, Senin (18/5/2026).
Alasannya, Modi mengatakan, untuk menjaga kondisi ekonomi India di tengah lonjakan biaya impor energi dan tekanan terhadap cadangan devisa negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, pada tahun fiskal terakhir yang berakhir 31 Maret, negara itu mengimpor logam mulia senilai US$72 miliar (sekitar Rp 1.267 triliun).
Di India sendiri, emas memiliki peran budaya yang penting, karena kerap diberikan sebagai hadiah dalam pernikahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan kondisi ini, Modi mengatakan menghentikan pembelian emas sama dengan telah berjuang dan bertanggungjawab sebagai warga negara.
"Patriotisme tidak hanya tentang kesiapan mengorbankan nyawa di perbatasan. Dalam situasi seperti ini, hal itu berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kita kepada negara dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Selang tiga hari seruan itu muncul, India juga menaikkan bea impor emas menjadi 15% dari sebelumnya 6%. Kebijakan ini menjadi pil pahit bagi pasar emas terbesar kedua di dunia dalam hal perhiasan dan investasi.
India menjadi satu-satunya negara yang meminta warganya mengurangi pengeluaran untuk logam mulia. Hal ini karena impor emas sebagian dibayar dalam dolar AS.
Emas menjadi bagian dari kekhawatiran ekonomi yang lebih luas di India karena impor emas dan minyak sebagian besar dibayar dalam dolar AS yang dapat melemahkan nilai rupee India, yang tahun ini telah terdepresiasi sekitar 5% terhadap dolar. Pelemahan ini berpotensi memicu tekanan inflasi.
Kepala India Gold Policy Centre di Indian Institute of Management Ahmedabad Sundaravalli Narayanaswami mengatakan lebih dari 90% kebutuhan emas India berasal dari impor. Ia mencatat hampir 600 sampai 700 ton emas diimpor.
"Setiap tahun, 600 hingga 700 ton emas diimpor dan ekspor sangat rendah, sehingga emas ini menumpuk di rumah," ujarnya.
Adapun harga emas telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, bahkan menembus angka US$5.000 (sekitar Rp 88 juta) per ounce atau 28 gram untuk pertama kalinya pada Januari.
Seruan warga untuk tidak membeli emas dalam setahun ini membuat pelaku industri emas khawatir. Perajin perhiasan berbasis di New Delhi, Sanjeev Agarwal memprediksi seruan kondisinya akan lebih buruk dibandingkan masa Covid-19.
"Bagi sektor perhiasan, situasi ini lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid," ujarnya.
Pada masa lalu, India telah mencoba menekan impor emas berlebihan di saat tekanan ekonomi, dengan menaikkan bea masuk serta mendorong opsi investasi alternatif yang tidak melibatkan kepemilikan emas fisik.
Selain menahan diri supaya tidak membeli emas, Modi juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan, bekerja dari rumah, serta membatasi perjalanan luar negeri yang tidak penting guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Dia juga meminta keluarga mengurangi penggunaan minyak goreng dan meminta para petani untuk menekan pemakaian pupuk.
(hrp/hns)









































