Maskapai penerbangan di kawasan Teluk mulai mulai pulih. Operasional bisnis mereka telah terganggu akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berlangsung hampir empat bulan.
Kawasan Timur Tengah merupakan rumah bagi sejumlah maskapai terbesar di dunia. Namun selama konflik berlangsung, jaringan penerbangan mereka terdampak akibat serangan rudal dan drone Iran yang beberapa kali memaksa penutupan bandara serta mengubah jalur penerbangan di kawasan Teluk.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (20/6/2026), data Flightradar24 menunjukkan jumlah penerbangan maskapai-maskapai utama di kawasan Teluk kini telah kembali ke sekitar 82% dari level sebelum perang pecah pada 27 Februari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, Gulf Air dan Kuwait Airways telah melampaui 100% dari tingkat operasional sebelum perang. Sementara itu, tiga maskapai terbesar di kawasan yakni Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways kini telah kembali beroperasi di atas atau mendekati 90% dari kapasitas sebelum konflik.
Sebulan lalu, tingkat operasional Etihad dan Qatar Airways sempat anjlok ke kisaran 40-50%. Adapun Emirates mampu mempertahankan tingkat operasional yang lebih tinggi karena menggelontorkan biaya besar untuk menjaga penerbangan tetap berjalan.
Prospek industri penerbangan kawasan dinilai semakin membaik setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan sementara pada Rabu untuk mengakhiri konflik. Kedua negara juga dijadwalkan membahas implementasi gencatan senjata pada Jumat.
Managing Partner Aviation Strategy, James Halstead, mengatakan berakhirnya konflik akan memungkinkan pembukaan kembali wilayah udara di kawasan sehingga maskapai dapat sepenuhnya memulihkan operasional mereka.
"Jika situasi kembali normal, saya melihat maskapai-maskapai tersebut akan kembali beroperasi secara penuh seperti biasa," kata Halstead.
Selama konflik berlangsung, serangan drone berulang kali memaksa pesawat yang menuju kawasan Teluk mengalihkan rute penerbangan. Kondisi itu memicu kekhawatiran terkait keselamatan penumpang dan awak pesawat serta membatasi jalur penerbangan hanya pada beberapa koridor udara yang dianggap aman.
Maskapai-maskapai Eropa dan Asia sebagian besar masih menghentikan penerbangan ke kawasan Timur Tengah dan berbagai peringatan perjalanan masih diberlakukan.
Meski demikian, Australia pekan ini melonggarkan peringatan perjalanan untuk sejumlah negara di Timur Tengah, yang dinilai menjadi kabar positif bagi kawasan yang selama ini berfungsi sebagai pusat transit penerbangan internasional.
Di sisi lain, Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) masih mempertahankan peringatannya terkait penerbangan ke kawasan tersebut karena risiko yang masih berkaitan dengan konflik.
EASA mengatakan akan mempertimbangkan perkembangan terbaru saat meninjau kembali peringatan wilayah konflik yang saat ini berlaku hingga 24 Juni.
(ily/hns)









































