Bos Damri Curhat ke DPR, 416 Bus di Lokasi Terpencil Usianya Sepuh

Bos Damri Curhat ke DPR, 416 Bus di Lokasi Terpencil Usianya Sepuh

Heri Purnomo - detikFinance
Rabu, 24 Jun 2026 13:25 WIB
Perum Damri menghentikan operasi bus di Bandung mulai hari ini Kamis 28 Oktober 2021. Totalnya ada delapan rute yang berhenti operasi dan tiga rute masih beroperasi.
Ilustrasi bus Damri. Foto: Wisma Putra/detikcom
Jakarta -

Direktur Utama Perum Damri Setia Milatia Moemi mengungkapkan beberapa masalah pada layanan angkutan perintis pada lokasi terpencil di Indonesia. Masalah utamanya adalah angkutan perintis sudah tidak produktif karena usia operasionalnya sudah di atas 7 tahun.

Setia menyampaikan jumlah armada perintis yang berusia di atas 7 tahun ada sebanyak 416 bus per hari ini. Menurutnya, armada bus yang usianya sepuh ini sebenarnya sudah mengkhawatirkan untuk keselamatan penumpang.

Sejauh ini pihaknya banyak melakukan modiifikasi agar bus-bus itu masih bisa beroperasi normal dan memberikan layanan yang nyaman dan aman bagi masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini 416 bus. Kami modifikasi (supaya jalan). Tetapi kami sebetulnya agak khawatir dengan keselamatan dan kesehatan kerja," ujar Setia dalam RDP dengan Komisi VI DPR, Rabu (24/6/2026).

ADVERTISEMENT

Pihaknya juga mengeluh soal penolakan permintaan Penyertaan Modal Negara (PMN). Padahal suntikan modal dari negara itu diusulkan untuk melakukan peremajaan armada, khususnya armada perintis di lokasi terpencil.

Penolakan permintaan PMN itu disebabkan karena Damri belum memiliki proyek dasar dengan skema Public Service Obligation (PSO). Saat ini, layanan perintis masih menggunakan skema tender tahunan.

"Jadi untuk mendapatkan PMN kami harus punya underlying project yang namanya proyek PSO. Sampai dengan hari ini Damri untuk perintis bukan proyek PSO. Jadi kami mengikuti tender setiap tahun. Jadi proyek biasa dengan tender, jadi bukan Public Service Obligation tapi tender subsidi. Walaupun yang ikut tender kalau di daerah-daerah 3T hanya kami," terang Setia.

Kemudian, skema kontrak layanan angkutan perintis berbeda dengan operator lain seperti Pelni dan ASDP. Damri hanya memperoleh penggantian biaya sekitar 70% dari total biaya operasi, termasuk margin 10%.

"Sisanya kami harus cari dari pelanggan. Jadi kami harus dapat dari pendapatan pelanggan. Di mana pelanggan di daerah tersebut itu bukan pelanggan yang cukup ekonominya bagus untuk bisa membayar tarif. Jadi kadang-kadang kami harus menerima apabila mereka memberikan hasil pertanian kepada kami," kata Setia.

Lihat juga Video 'Imbas Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Transjakarta Siapkan Bus Khusus':

(hrp/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads