Surplus Neraca Dagang Terhenti, Purbaya Duga karena Impor Migas Naik

Surplus Neraca Dagang Terhenti, Purbaya Duga karena Impor Migas Naik

Anisa Indraini, Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 01 Jul 2026 19:38 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026. Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami penurunan menjadi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Foto: ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT
Jakarta -

Rangkaian surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan berturut-turut akhirnya terhenti setelah mencatat defisit sebesar US$ 1,6 miliar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menduga pelebaran defisit dipicu kenaikan biaya impor minyak dan gas (migas) di tengah lonjakan harga minyak dunia.

"Dugaan saya karena itu, karena kita impor migas harganya lagi naik kan, minyak, minyak bumi, saya pikir disitu yang membuatnya naik," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).

Purbaya menilai kondisi tersebut masih terkendali jika melihat akumulasi perdagangan sepanjang tahun berjalan. Purbaya menilai kondisi ini akan terkendali dalam beberapa waktu ke depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau kita lihat year-to-date Januari sampai Mei, migasnya memang negatif US$ 12 miliar, nonmigas positif US$ 16, totalnya masih positif US$ 4 miliar. Jadi kenaikannya betul saya bilang tadi karena defisit migas membesar akibat harga minyak dunia yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," sebut Purbaya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$ 23,20 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 24,81 miliar. Impor yang tumbuh lebih tinggi dibanding ekspor membuat neraca perdagangan berbalik defisit.

ADVERTISEMENT

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei terutama berasal dari komoditas migas.

"Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," kata Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026)

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads