Naik 44,4%, Belanja Subsidi & Kompensasi Sudah Habiskan Rp 233 T

Naik 44,4%, Belanja Subsidi & Kompensasi Sudah Habiskan Rp 233 T

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 07 Jul 2026 17:27 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank I
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat pembayaran subsidi dan kompensasi hingga semester I-2026 mencapai Rp 233 triliun. Realisasi itu setara dengan 52,1% dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dan melonjak 44,4% secara tahunan (year on year/yoy).

Purbaya mengatakan adanya peningkatan subsidi dan kompensasi sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika harga energi global. Dia merinci realisasi tersebut terdiri dari subsidi sebesar Rp 116 triliun dan kompensasi Rp 116,9 triliun.

"Realisasi subsidi dan kompensasi semester I-2026 menunjukkan peningkatan uang signifikan sebesar 44,4% apabila dibandingkan dengan realisasi di periode yang sama 2025 sebesar Rp 161,4 triliun," kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (7/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya menjelaskan kenaikan subsidi dan kompensasi energi dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya volume konsumsi BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram (kg), serta listrik bersubsidi. Sementara untuk non-energi, peningkatan realisasi terutama didorong oleh pembayaran subsidi pupuk.

Sejalan dengan itu, volume penyaluran berbagai barang bersubsidi juga meningkat dibandingkan semester I-2025. Purbaya mencatat penyaluran BBM bersubsidi naik 7,8%, volume LPG 3 kg meningkat 2% dan jumlah pelanggan listrik bersubsidi bertambah 2,1%.

ADVERTISEMENT

"Volume pupuk meningkat sebesar 21,4% dan debitur KUR meningkat sebesar 3,6%," tambah Purbaya.

Peran APBN dinilai sangat strategis sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas perekonomian dan daya beli masyarakat di tengah geopolitik dan ketidakpastian global. Hal itu, kata Purbaya, terlihat dari keputusan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM subsidi di tengah kenaikan harga energi global.

"Kita lihat kan shock absorber pada waktu harga minyak dunia tinggi, kita tidak naikkan harga BBM subsidi. Sebagian mengkritik kebijakan tersebut, tetapi untuk kami, untuk pemerintah, untuk kita semua, itu bagus untuk menjaga stabilitas sehingga kita masih bisa tumbuh terus ekonominya," jelas Purbaya.

Simak juga Video 'Purbaya: Kita Bersyukur di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Masih Terjaga':

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads