Vietnam & Filipina Naik Kelas Jadi Menengah Atas, Airlangga Sebut RI Lebih Dulu

Vietnam & Filipina Naik Kelas Jadi Menengah Atas, Airlangga Sebut RI Lebih Dulu

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 10 Jul 2026 16:12 WIB
Pertumbuhan ekonomi RI di kuartal II-2021 diramal tembus 7%. BI menyebut hal ini karena pemulihan di sektor pendukung turut mendorong ekonomi nasional.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Vietnam dan Filipina berhasil naik kelas menjadi upper middle class atau negara berpendapatan menengah ke atas berdasarkan Bank Dunia. Gross National Income (GNI) atau Pendapatan Nasional Bruto Vietnam tercatat US$ 4.970 atau Rp 89,46 juta, sementara Filipina US$ 4.850 atau Rp 87,30 juta (kurs Rp 18.000).

Menanggapi ini, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut Indonesia sudah lebih dulu mencapai upper middle class. Menurutnya level tersebut bahkan sudah dicapai pasca pandemi Covid-19.

"Kita sudah naik dari kemarin. Kita kan sudah termasuk upper middle class kemarin pasca Covid kemarin," kata Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko bidang Ekonomi, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bank Dunia mengelompokkan negara berdasarkan GNI per kapita menjadi berpendapatan rendah US$ 1.175 atau kurang, menengah bawah US$ 1.176 -US$ 4.635, menengah atas US$ 4.636 - US$ 14.375, dan berpendapatan tinggi di atas US$ 14.375.

ADVERTISEMENT

GNI per kapita Indonesia sendiri berada di level US$ 5.120 yang artinya sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Menurut Airlangga, Pemerintah terus berupaya menaikkan GNI per kapita lewat berbagai program, termasuk pengembangan Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital.

"Ya ini kita dengan beberapa program termasuk salah satu yang tadi dibahas dengan para lebih dari 60 duta besar bagaimana pembangkitan perekonomian melalui artificial intelligence dan digital economy. Nah ini kan pemerintah sedang siapin PPnya terkait dengan itu," tuturnya.

Airlangga percaya pengembangan AI dapat mendorong perekonomian Indonesia. Pasalnya ia berpendapat saat ini tidak ada negara yang lebih unggul dari yang lainnya dalam hal pengembangan AI.

"Jadi AI ini menjadi salah satu peluncur pertumbuhan ekonomi ke depan karena semua negara sama, starting line-nya sama. Jadi belum ada yang lebih unggul dari yang lain. Tetapi tentu ini semua teknologinya berbasis kepada kemampuan inovasi yang sekarang kalau kita bisa katakan seluruhnya masih perusahaan-perusahaan unggul inovasi ini seluruhnya masih di Amerika," tutup Airlangga.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads