Ekonom: Sejarah Membuktikan kalau Dolar AS Sudah Naik, Susah Turun Lagi

Ekonom: Sejarah Membuktikan kalau Dolar AS Sudah Naik, Susah Turun Lagi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2026 14:14 WIB
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (8/7/2026). Penguatan mata uang Negeri Paman Sam membuat kurs dolar AS kembali bertengger di level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal kembali memasuki tren pelemahan seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Bahkan mata uang Garuda ini berpotensi melemah Rp 18.200 per dolar AS pekan ini.

"Rupiah ini melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Karena saya sendiri memberikan target di minggu ini itu kemungkinan Rp 18.300-an," kata analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi kepada detikcom, Selasa (14/7/2026).

Namun yang menjadi persoalan lain adalah secara historis saat rupiah sudah melemah, kecil kemungkinan nilainys bisa kembali menguat secara signifikan hingga ke level beberapa tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh permintaan dolar yang terus meningkat terutama untuk membayar bunga cicilan atau utang asing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum lagi selama ini permintaan impor bahan bakar hingga bahan baku produksi dalam negeri juga terus meningkat yang menciptakan permintaan rutin untuk mata uang asing. Pada akhirnya kondisi ini akan terus ikut menekan rupiah.

"Kita harus lihat sejarah, dari tahun 2014 sampai tahun 2026 tidak pernah rupiah itu menguat, rupiah selalu melemah. Semakin tahun hutang pemerintah semakin besar, itulah yang membuat rupiah melemah," ujar Ibrahim.

ADVERTISEMENT

Artinya jika Indonesia tidak mengurangi jumlah utang dan ketergantungan impor, mau tak mau harus betah melihat nilai dolar yang semakin hari jadi semakin mahal. Meski tentu baik dari Bank Indonesia (BI) atau pemerintah bisa melakukan sejumlah upaya menahan laju pelemahan rupiah ini.

"Kalau seandainya turun pun juga kemungkinan besar di Rp 17.800 itu sudah paling rendah. Artinya apa? Turun mencapai di level tahun 2025 sangat sulit. Nanti pun juga tahun 2027 turun di bawah harga di tahun 2026 sangat sulit. Karena memang benang merahnya itu dari 2014 sampai saat ini terus mengalami pelemahan," tegasnya.

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad juga menilai secara historis saat nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah mengalami depresiasi atau pelemahan, mata uang Garuda ini dapat kembali naik atau menguat secara signifikan ke level sebelumnya, katakanlah dari saat ini sudah di atas Rp 18.100/dolar AS kembali ke Rp 16.500/dolar AS.

"Kita lihat selama beberapa tahun terakhir memang sulit untuk rupiah kembali ke titik semula ya. Katakanlah 16.500 seperti yang di APBN 2026 targetnya begitu," terang Tauhid.

Selain secara historis rupiah memang sulit untuk bisa menguat ke level sebelumnya, Tauhid menilai saat ini rupiah sudah sangat sensitif terhadap sentimen pasar global karena sektor produksi dan energi masih banyak tergantung pada impor.

"Jadi kita sudah sangat sensitif dengan isu geopolitik di tingkat global gitu ya. Jadi ini yang kemudian nggak bisa kekuatan domestik saja bisa mengantisipasi situasi itu," ujarnya.

Masalahnya lagi, Tauhid menilai upaya yang perlu dikeluarkan untuk mendorong rupiah kembali menguat sangat besar. Semisal menaikkan suku bunga acuan BI atau BI-Rate lebih tinggi lagi, meski cara ini juga memiliki risikonya sendiri seperti membuat pertumbuhan ekonomi nasional mengalami perlambatan.

"Nah itu juga agak sulit sehingga dari titik keseimbangannya ya adalah rupiah tidak terlalu melemah tapi ekonomi masih bisa jalan begitu. Nah titik kesimbangan itu yang kemudian sulit karena tadi bisa saja di bawah Rp 18.000 tapi BI rate-nya harus naik lebih tinggi," ucap Tauhid.

"Konsekuensinya kredit mahal, cost of fund naik, kemudian kita harus bayar bunga utang lebih mahal dan sebagainya. Nah itu yang relatif kenapa agak berat untuk mendorong dolar di bawah18.000 untuk saat ini," sambungnya

Tonton juga video "Kata Menteri UMKM soal Dampak Kenaikan Dolar ke Pelaku Usaha"

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads