Trump Blokade Pelabuhan Iran, Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik

Trump Blokade Pelabuhan Iran, Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2026 07:48 WIB
U.S. President Donald Trump speaks during an event to mark the launch of Trump Accounts in the Oval Office at the White House in Washington, D.C., U.S., July 6, 2026. REUTERS/Evan Vucci
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump/Foto: REUTERS/Evan Vucci
Jakarta -

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memblokade seluruh pelabuhan Iran.

Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan jika Iran tetap menolak kembali ke meja perundingan.

"Minggu depan giliran pembangkit listrik, minggu depan giliran jembatan-jembatan, kecuali mereka mau duduk bersama dan bernegosiasi," ujar Trump dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Trump mengaku negosiator AS telah menghubungi Iran untuk segera membuat kesepakatan. "Saya simpan target energi untuk bagian terakhir, tapi pada akhirnya kami akan menghantam target-target energi tersebut," jelas Trump.

ADVERTISEMENT

Di saat yang sama, militer AS menyatakan telah meluncurkan rangkaian serangan baru. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran yang digunakan dalam menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.

Militer Iran menyatakan telah meluncurkan serangan drone ke pangkalan AS di Azraq, Yordania, pada Rabu (15/7) dini hari. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah membombardir fasilitas senjata di Bahrain dan Kuwait. Namun, hingga kini, militer AS belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim tersebut.

Di pihak lain, proyektil AS dilaporkan menghantam wilayah Bandar Abbas dan dekat Sirik di Iran selatan. Menanggapi ancaman tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan negaranya tidak akan tunduk.

"Jika AS berpikir bahwa memperketat tindakan terhadap kami, melalui aksi militer dan blokade ekonomi, kami akan kembali bernegosiasi, maka mereka telah melakukan kesalahan besar," ujarnya.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads