Pemerintah Indonesia menandatangani dokumen pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) di Shanghai, kemarin. Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Terbatas pada 13 Juli lalu.
Keikutsertaan Indonesia dalam deklarasi WAICO menjadi dukungan Indonesia untuk memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan dan tata kelola kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence atau AI).
"Penandatanganan ini dilakukan atas arahan Presiden Prabowo untuk mendorong Pembangunan ekonomi yang mempercepat Agenda Pembangunan Berkelanjutan dari PBB, dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat di seluruh dunia. Menyadari perlunya terlibat langsung dalam kerja sama internasional dan tata kelola global tentang AI untuk pengembangan yang sehat dan ke arah yang bermanfaat, aman, dan adil untuk kepentingan seluruh umat manusia, sesuai dengan tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (17/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Airlangga menyampaikan dokumen ini merupakan kesepakatan untuk membentuk WAICO atau dokumen "Agreement on the Establishment of the World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO)". WAICO didirikan sebagai organisasi internasional antarpemerintah yang independen dan diberikan personalitas hukum internasional.
Penandatanganan ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan kemitraan antarnegara, untuk mendorong tata kelola kecerdasan artifisial (AI). Langkah ini juga menandai babak baru berdirinya WAICO sebagai organisasi internasional antarpemerintah yang independen dan berfokus pada kerja sama kecerdasan buatan (AI) di ranah sipil (civilian domain) secara inklusif dan non-diskriminatif.
Airlangga mengatakan kehadiran Indonesia sebagai salah satu anggota pendiri (founding member) organisasi tersebut menjadi langkah strategis untuk mendorong tata kelola AI global yang berpusat pada manusia (human-centric). Ia menilai pendekatan itu penting agar manfaat AI dapat dirasakan secara setara oleh seluruh negara, terutama negara berkembang, dalam mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.
"Penandatanganan dokumen perjanjian pendirian WAICO hari ini adalah tonggak penting bagi kita semua. Melalui wadah ini, Indonesia berkomitmen untuk mengambil peran aktif menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi secara global (bridging the AI divide). Kehadiran para perwakilan Pemerintah negara sahabat menegaskan bahwa kita memiliki visi yang sama dalam mengelola AI agar lebih aman (safe), terpercaya (trustworthy), dan beretika (ethical)," pungkas Airlangga
Sebagai informasi, penandatanganan dokumen tersebut dilakukan bersama perwakilan dari sekitar 30 negara. Para penandatangan terdiri atas wakil perdana menteri, menteri, pejabat setingkat menteri, serta perwakilan pemerintah, termasuk dari Tiongkok sebagai tuan rumah, Brasil, Rusia, Malaysia, Afrika Selatan, dan sejumlah negara lainnya. Seluruh negara yang menandatangani dokumen tersebut akan menjadi negara pendiri sekaligus anggota WAICO.
Momentum penandatangan dokumen perjanjian pendirian WAICO berlangsung dalam rangkaian acara konferensi World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai. Sebelum penandatanganan, dilakukan pertemuan dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Xi Jinping dan juga pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.










































