Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut pengesahan Undang-Undang (UU) tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) menegaskan posisi tawar Indonesia sebagai destinasi investasi utama di kawasan Asia. Hal tersebut ia tegasnya menyusul keraguan dunia terhadap iklim investasi di Indonesia karena persoalan regulasi.
Menurutnya, UU P2SK menjadi salah satu jawab bagi keraguan-keraguan tersebut. Dalam aturan itu, Indonesia menerapkan standar hukum komersial internasional yang bersih dan independen untuk sejajar dengan Singapura, Hong Kong, hingga Dubai.
"Dunia seringkali ragu dengan iklim investasi di negeri ini karena regulasi, saya tidak membantahnya. Namun, jika ingin mengubah keraguan tersebut, kita harus berbenah dengan menghadirkan kepastian regulasi jangka panjang. Pengesahan Undang-Undang P2SK bulan lalu oleh DPR adalah bukti penegasan posisi tawar kita sebagai destinasi investasi utama di Asia," ungkap Luhut dikutip dari unggahan resmi Instagram @luhut.pandjaitan, Jumat (17/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Luhut Menghadap Prabowo di Hambalang |
Luhut mengatakan, Indonesia akan menjadi tujuan nyata agar modal yang ditempatkan bergerak di sektor riil. Menurutnya, hal tersebut berbanding terbalik dengan pusat keuangan lainnya yang hanya menjadi tempat transitnya modal.
Ia menyebut, Indonesia menerapkan strategi yang berbeda dengan negara maju yang disebut habiskan triliunan dolar demi cip atau Al. Menurutnya, teknologi canggih tidak akan menghasilkan jika tidak bermanfaat bagi masyarakat.
"Dengan potensi bonus demografi Indonesia yang mayoritasnya melek digital, akan memaksimalkan setiap modal langsung ke sektor riil. Jadi, biarlah negara maju berlomba menjual peralatannya, sementara kita menyiapkan siapkan ladang suburnya," jelasnya.
Luhut juga menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat iklim investasi melalui pembangunan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) dan pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Menurutnya, kedua lembaga tersebut akan berkolaborasi untuk menanamkan modal sekaligus berbagi risiko bersama para investor.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan utama di sektor energi hijau. Karena itu, aliran investasi ke depan akan difokuskan pada berbagai proyek strategis, seperti transisi energi bersih, pengembangan ekonomi biru, hingga pelestarian hutan.
Dengan begitu, Luhut menilai investor tidak hanya memperoleh keuntungan bisnis, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan.
"Jika mereka untung, negara juga harus untung. Apalagi tren investasi saat ini sudah bergeser ke arah value ketimbang profit semata," pungkasnya.
(ahi/ara)









































