Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono menyampaikan rencana untuk tidak lagi memberikan makan bergizi gratis (MBG) kepada siswa dari keluarga mampu atau desil 8 hingga 10 masih terus dikaji. Ia enggan membeberkan lebih detail sebelum pengkajian selesai.
"Memang sudah ada wacana, tapi masih kita kaji lagi. Nanti hasilnya akan disampaikan setelah kajian kita selesai ya," ujar Trenggono saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (17/7/2026).
Saat ditanya lebih lanjut kapan kajian tersebut dapat selesai, Trenggono menyebut pihaknya telah diberi waktu maksimal satu bulan oleh Presiden Prabowo Subianto. Hal ini sejalan dengan arahan Prabowo dalam rapat terbatas sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah diberikan waktu maksimal 1 bulan ya. Yang jelas penerima manfaat itu adalah prioritas. Jadi, disesuaikan nanti ya," imbuh ia.
Sebelumnya, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari mengatakan MBG tidak akan diberikan lagi kepada anak-anak yang berasal dari desil sosial 8-10. Penataan penerima manfaat ini dibahas langsung Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang dihelat Rabu sore kemarin.
"Pokoknya soal penataan penerima manfaat, ya. Tadi ada diskusi-diskusi di dalam bahwa untuk mereka yang katakanlah ya ada di desil 8, 9, 10 yang mapan, kaya, kaya sekali gitu kan kalau desil 8, 9, 10, itu memang tidak akan diberikan lagi," beber Agustina usai rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2026).
Dalam diskusi yang dilakukan di Istana, Agustina bilang dilema muncul apabila menghentikan MBG kepada anak orang kaya. Menurutnya, ada beberapa sekolah yang muridnya tercampur dari semua golongan tingkat sosial.
"Jadi seperti tadi, misalnya ada sekolah negeri atau sekolah apa, ya, yang ada muridnya katakanlah 50% desilnya menengah sedikit ke bawah, menengah sedikit ke atas, kan berarti nanti jangan sampai ada yang menerima, ada yang tidak," beber Agustina.
(rea/fdl)









































