Perusahaan F&B RI Bidik Pasar Ekspor di Timur Tengah hingga AS

Perusahaan F&B RI Bidik Pasar Ekspor di Timur Tengah hingga AS

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Minggu, 19 Jul 2026 15:20 WIB
Dok. Rasa Group
Foto: Dok. Rasa Group
Jakarta -

Industri bisnis F&B di Indonesia terus berkembang. Salah satu perusahaan F&B asal Indonesia, PT Multi Citra Rasa (Rasa Group) terus memperluas langkah bisnisnya ke pasar internasional dengan memanfaatkan peluncuran House of Rasa sebagai pusat kolaborasi dan inovasi industri food and beverage (F&B).

Setelah memperkuat pasar Asia Tenggara dalam dua tahun terakhir, perusahaan kini membidik perluasan distribusi ke kawasan Timur Tengah, Australia, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, sebagai tujuan ekspansi berikutnya.

CEO Rasa Group Sherley Ruslie mengatakan strategi perusahaan bukan sekadar meningkatkan ekspor produk, tetapi membangun kehadiran merek Indonesia di pasar global. Dengan demikian, House of Rasa menjadi salah satu fondasi untuk memperkenalkan ekosistem inovasi F&B Indonesia kepada mitra internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, sejak 2024 perusahaan telah mengembangkan orientasi pasar ekspor mulai dari Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Kamboja, dan Malaysia. Setelah peluncuran House of Rasa di PIK 2, Tangerang, perusahaan mulai membuka peluang ekspansi ke kawasan lain.

"Dengan dibukanya Flagship House of Rasa ini mengizinkan kami membuka pintu ke internasional lainnya seperti Middle East, USA market, Australia market, Korea, Jepang, dan lain-lain," ujar dia dalam siaran pers, ditulis Minggu (19/7/2026).

ADVERTISEMENT

Sherley menegaskan pendekatan ekspor yang dilakukan Rasa Group berbeda dengan eksportir komoditas pada umumnya. Perusahaan memilih membawa identitas merek Indonesia ke pasar luar negeri.

"Yang Rasa Group lakukan kami bukan mengekspor komoditi, yang kami lakukan adalah kami mengekspor brand," ucapnya.

Saat ini, sejumlah produk unggulan seperti sirup merek Dripp telah dipasarkan ke Thailand dan Filipina dengan pengiriman mencapai belasan kontainer setiap bulan untuk masing-masing negara. Selain itu, produk kopi perusahaan juga telah diekspor ke China dan pada peluncuran House of Rasa diperkenalkan kembali untuk memperkuat pasar domestik maupun internasional.

Di tengah ekspansi tersebut, Sherley mengatakan Indonesia tetap menjadi pasar utama perusahaan. Namun, pertumbuhan industri F&B di kawasan Asia Tenggara menjadi peluang yang terus dimanfaatkan.

"Growth industri F&B ini kami lihat masih akan terus terjadi di negara South East Asia lainnya," katanya.

Menurut Sherley, House of Rasa tidak hanya difungsikan sebagai kantor pusat, melainkan sebagai Innovation & Collaboration Hub yang mempertemukan pelaku industri dalam satu ekosistem. Fasilitas yang tersedia meliputi Beverage Lab, Culinary Lab, Coffee Experience Center, Training Center, hingga ruang kolaborasi dan jejaring bisnis.

Melalui fasilitas tersebut, perusahaan ingin menghadirkan ruang bagi pemilik merek, pemasok, komunitas, asosiasi, hingga talenta F&B untuk mengembangkan ide, melakukan riset, serta menghasilkan inovasi produk baru.

Selain memperluas pasar, perusahaan juga membuka berbagai opsi pengembangan bisnis, termasuk peluang kolaborasi maupun langkah korporasi di masa depan. "Kami membuka opsi untuk baik itu kolaborasi ataupun mengembangkan bisnis keluar juga dari Indonesia," ujar Sherley.

Meski demikian, ia memastikan perusahaan belum berencana melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dalam tahun ini. Di tengah tantangan kenaikan biaya logistik, inflasi, dan harga bahan baku, Rasa Group memilih memperluas pasar sebagai strategi menjaga pertumbuhan. Perusahaan menargetkan kinerja & pendapatan tetap meningkat hingga akhir tahun.

"Kami sih target optimis bisnis pasti masih tumbuh double digit," kata Sherley.

Peresmian House of Rasa Headquarters di PIK 2 juga dihadiri Yuke Sri Rahayu selaku Direktur Kriya, Kuliner, Desain, dan Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Menurutnya, nama "Rasa" tidak hanya merepresentasikan cita rasa kuliner, tetapi juga identitas, kualitas, serta koneksi emosional yang mampu memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Yuke mengatakan tema "Leading Power: Growing Global Sustainable Economy Together" mencerminkan tekad industri kreatif Indonesia untuk menjadi pelaku utama di tingkat global, bukan sekadar mengikuti perkembangan pasar.

"Ini bukan sekadar slogan, tetapi pernyataan sikap bahwa industri kreatif kita siap melangkah lebih jauh, lebih berkelanjutan, dan siap mendunia," ujarnya.

Dalam sambutannya, Yuke juga mengungkapkan bahwa subsektor kuliner masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif dengan kontribusi sekitar 41 persen pada 2025.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah memperkuat hilirisasi produk lokal agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dengan merek yang kuat.

"Kami mendorong adanya hilirisasi produk lokal. Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi merek asing, tetapi juga menjadi pemain utama di tingkat regional maupun global sebagai produk bernilai tambah tinggi yang memiliki brand yang kuat," pungkasnya.

Ia menambahkan, tiga sub sektor utama ekonomi kreatif berasal dari kuliner, fesyen, serta televisi dan radio/video yang menyumbang sekitar 69,42 persen dari total PDB ekonomi kreatif nasional yang mencapai Rp1.757,87 triliun di 2025 dengan pertumbuhan 6,86 persen.

(kil/kil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads