Dukung Literasi Anak di 3T, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau Obi

Dukung Literasi Anak di 3T, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau Obi

Rahmat Khairurizqi - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2026 09:05 WIB
Dukung Literasi Anak di 3T, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau Obi
Suasana Taman Baca Anak Ceria di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara (Foto : dok. Harita Nickel)
Jakarta -

Kemampuan membaca dan menulis masih menjadi tantangan bagi sebagian anak di Indonesia. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2024, tingkat buta huruf pada anak usia 5-17 tahun mencapai 7,10 persen.

Jika dilihat lebih detail, angka tersebut masih lebih tinggi pada anak-anak di wilayah pedesaan serta anak-anak yang berasal dari kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah.

Maluku Utara (Malut) menjadi salah satu wilayah yang mencatat angka sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional, yakni sebesar 7,19 persen. Artinya, dari setiap 100 anak, masih terdapat sekitar tujuh anak yang belum memiliki kemampuan membaca dan menulis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski secara persentase terlihat kecil, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian. Tantangan geografis Maluku sebagai wilayah kepulauan serta keterbatasan infrastruktur menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi akses pendidikan bagi masyarakat.

Karena itu, kolaborasi berbagai pihak diperlukan untuk memperluas akses pendidikan, termasuk keterlibatan sektor swasta yang beroperasi di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT

Salah satunya dilakukan oleh Harita Nickel melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bidang pendidikan. Perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan (Halsel) ini, menghadirkan Rumah Belajar sebagai ruang pendidikan informal bagi anak-anak di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Executive Vice President External Relations Harita Nickel, Latif Supriadi mengatakan keberadaan Rumah Belajar menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan masyarakat.

Menurutnya, program tersebut dirancang untuk menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya membantu anak meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter dan memberikan pengalaman belajar yang positif.

"Rumah belajar ini merupakan komitmen nyata Harita Nickel dalam mewujudkan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada pilar pendidikan," ujar Latif dalam keterangan tertulis, Selasa (22/7/2026).

Latif berharap, Rumah Belajar dapat menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bermain. Selain itu, program tersebut diharapkan dapat membantu anak memperluas wawasan serta lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi di tengah perkembangan zaman.

"Kami berharap Rumah Belajar ini dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bermain, sekaligus menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membentuk karakter, serta membimbing mereka agar bijak dalam memanfaatkan teknologi di tengah perkembangan zaman," katanya.

Rumah Belajar Jadi Ruang Tambahan Anak Mengembangkan Literasi

Dukung Literasi Anak di 3T, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau ObiAnak-anak di Rumah Belajar Cahaya Ilmu di Desa Ocimaleo bersama guru pendamping dari Harita Nickel

Melalui program tersebut, Harita Nickel telah menghadirkan sejumlah Rumah Belajar di Pulau Obi, di antaranya Rumah Belajar Taman Ceria di Desa Kawasi, Rumah Belajar Simore di Desa Gambaru, Rumah Belajar Cahaya Ilmu di Desa Ocimaleo, serta Rumah Belajar Nyinga Moi di Desa Fluk yang baru diresmikan pada 2 Mei lalu.

Rumah Belajar tersebut menjadi sarana bagi anak-anak untuk mendapatkan pembelajaran tambahan di luar jam sekolah, khususnya dalam bidang literasi dan numerasi dasar.

Kegiatan belajar dilakukan dengan pendekatan yang menyenangkan. Anak-anak tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti permainan, mendongeng, hingga kegiatan yang melatih kemampuan berpikir.

Dalam kesehariannya, kegiatan Rumah Belajar dimulai dengan membaca selama 15 menit. Setelah itu, anak-anak mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan, mulai dari mengenal huruf, membaca, menulis, menyusun kata dan kalimat, hingga meningkatkan kemampuan berhitung.

Selain kegiatan belajar, anak-anak juga mengikuti permainan edukatif seperti kuis pengetahuan umum, permainan ketangkasan, serta menonton film edukasi bersama.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, Rumah Belajar menyediakan berbagai fasilitas seperti buku bacaan, paket permainan edukatif anak, guru pendamping, hingga makanan ringan bagi peserta.

Hingga saat ini, sebanyak 210 siswa telah menerima manfaat dari program Rumah Belajar Harita Nickel. Program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan keterampilan literasi anak sekaligus memberikan bekal pengetahuan yang lebih luas.

Guru Melihat Perubahan Anak Lewat Pendampingan Lebih Dekat

Keberadaan Rumah Belajar juga dirasakan manfaatnya oleh para pengajar yang mendampingi anak-anak setiap hari. Salah satu pengajar Rumah Baca Ceria yakni Imer Natalia Lumamuly.

Ia melihat Rumah Belajar menjadi ruang tambahan bagi anak-anak yang masih membutuhkan pendampingan dalam proses belajar. Tidak hanya bagi siswa yang belum lancar membaca dan menulis, tetapi juga bagi anak-anak yang ingin mengembangkan potensi mereka.

Menurut Imer, sistem pembelajaran dengan jumlah siswa yang lebih terbatas membuat proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah dibandingkan pembelajaran formal di sekolah.

"Kalau Taman Ceria belajarnya kan bebas. Di Taman Ceria masih punya hubungan. Karena siswa yang dia masih kurang dalam pembelajaran di sekolah, maka akan diarahkan untuk ke Taman Ceria. Di sana ada banyak pembelajaran yang bersifat membangun,

Menurut Imer, Taman Ceria tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang belum lancar membaca, menulis, atau berhitung, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak yang memiliki potensi tertentu untuk mendapatkan pendampingan dan pengembangan kemampuan.

"Sungguh luar biasa Taman Ceria untuk perkembangan anak-anak, karena kalau di sekolah sebagian besar kan banyak siswa. Banyak siswa. Tapi kalau di Taman Ceria, siswa kan jumlahnya lebih sedikit. Jadi dalam proses pembelajaran, ke siswa itu lebih terkontrol dengan baik," jelasnya.

Orang Tua Rasakan Anak Lebih Aktif Belajar

Dukung Literasi Anak di 3T, Harita Nickel Bangun Rumah Belajar di Pulau ObiPeningkatan kualitas literasi anak-anak di sekitar wilayah operasional Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Foto: Harita Nickel

Tidak hanya memberikan dampak bagi anak-anak, keberadaan Rumah Belajar juga memberikan pengalaman berbeda bagi para orang tua.

Hamsiah Drakel, salah satu orang tua anak yang mengikuti kegiatan Rumah Belajar, melihat anak-anak datang dengan antusias setiap sore. Menurutnya, aktivitas belajar yang dikombinasikan dengan permainan membuat anak merasa nyaman mengikuti kegiatan.

"Setiap sore anak-anak di sini datang dengan hati senang. Mereka tidak hanya membaca, tapi juga bermain setelahnya. Saya bisa melihat kegembiraan mereka setiap sore, rasanya seperti stres mereka di rumah hilang ketika belajar dan bermain di sini," tuturnya.

Hal serupa disampaikan Nadia Abdullah. Ia menilai Rumah Belajar dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak di tengah meningkatnya penggunaan perangkat digital.

"Anak-anak sekarang banyak main HP, jadi kurang fokus belajar. Dengan adanya rumah belajar ini, kami berharap mereka bisa lebih fokus dan punya kegiatan yang lebih bermanfaat," ungkapnya.

Ahli Nilai Rumah Belajar Beri Dampak Sosial Lebih Luas

Dari sisi psikologi, keberadaan ruang belajar bersama dinilai tidak hanya memberikan manfaat dalam aspek pendidikan, tetapi juga berpengaruh terhadap kondisi sosial dan emosional anak maupun keluarga.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malut sekaligus Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Malut, Syaiful Bahry melihat fenomena rumah belajar sebagai ruang yang memiliki fungsi lebih luas dari sekadar tempat belajar formal.

"Kehadiran ruang publik komunal seperti rumah belajar dapat mereduksi stres, mempererat hubungan sosial, dan menumbuhkan harapan orang tua terhadap anak-anaknya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Malut, Mulyadi Tutupoho menilai, kehadiran Rumah Belajar dapat membantu pemerintah dalam memperluas akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat di wilayah desa.

"Inisiatif ini sangat membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya anak-anak di desa," tuturnya.

Selain itu, Program Rumah Belajar Harita Nickel juga mendapatkan apresiasi melalui penghargaan Subroto Awards 2025 kategori Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Terinovatif Komoditas Mineral Kategori Pendidikan.

Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas upaya perusahaan dalam menghadirkan program pendidikan informal yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar wilayah operasional perusahaan.

Lihat juga Video: Pramono Bicara Pentingnya Literasi Anak: Membuka Ruang Wawasan

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads