RI Kasih Pajak 0% 50 Tahun, Purbaya: Agar Lebih Menarik dari Singapura-Dubai

RI Kasih Pajak 0% 50 Tahun, Purbaya: Agar Lebih Menarik dari Singapura-Dubai

Heri Purnomo - detikFinance
Selasa, 21 Jul 2026 15:48 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun hingga semester I 2026. Defisit tersebut terjadi karena realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendap
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa / Foto: Andhika Prasetia/DetikFoto
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membenarkan pemerintah akan memberikan insentif berupa pajak 0% selama 50 tahun bagi pelaku usaha jasa keuangan di Pusat Finansial Internasional Indonesia alias PFII.

Purbaya mengatakan insentif berupa pajak 0% selama 50 tahun diberikan agar dapat PFII lebih dilirik oleh investor, dibandingkan pusat keuangan internasional lain.

"Kita melihat, untuk tahap pertama sepertinya seperti itu. Kita membandingkan dengan praktek bisnis di tempat lain yang sejenis," ujar Purbaya saat dikonfirmasi terkait kabar pemberian pajak 0% selama 50 tahun buat investor di PFII.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus lebih menarik sedikit. Kenapa? Kita kan baru masuknya terakhir. Ini kan kita bersaing dengan Singapura, Hong Kong, Dubai, dan lain-lain," sambungnya.

Menurut Purbaya, jika pemerintah Indonesia tidak memberikan insentif lebih dari yang ditawarkan pusat keuangan internasional lainnya, maka investor tidak akan mau berinvestasi di PFII.

ADVERTISEMENT

Percuma saja kata Purbaya, selama ini dirinya bersama DPR dalam membuat aturan yang bisa menarik investor masuk ke PFII.

"Jadi ada satu pemanis yang seperti menarik, tapi sebenarnya sama aja sih. Ya mesti ada begitu-nya kan dagang, namanya juga dagang. Tapi saya pikir ini dengan proposal seperti itu pasti akan lebih menarik dibandingkan dengan Dubai, Hong Kong, Singapura," ujarnya.

Ia optimistis akan banyak investor yang masuk ke PFII di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

"Saya pikir tadinya ketika perang usai, PFII menjadi susah. Tapi kan kita melihat bahwa ketidakpastian nggak hilang rupanya. Amerika masih pernah nyerang. Jadi masih itu kan. Jadi ada demand untuk pusat finansial di dunia. Kita ingin memanfaatkan itu," pungkasnya.

Tonton juga video "Soal Pajak JHT, Purbaya Masih Tunggu Data BPJS Ketenagakerjaan"

(hrp/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads