Memasuki awal Agustus, pedagang bendera dan hiasan bernuansa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mulai ramaikan Jakarta. Namun hasil penjual para pedagang musiman ini kian merosot dari tahun ke tahun.
Berdasarkan pantauan detikcom, Senin kemarin, pemandangan tersebut terlihat di kawasan Jatinegara hingga sepanjang Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur. Berbagai ukuran bendera, umbul-umbul, hingga perlengkapan dekorasi untuk menyambut Hari Kemerdekaan dipajang di lapak-lapak pedagang.
Di kawasan Jatinegara, para pedagang musiman mulai membuka lapak di sepanjang Jalan Bekasi Raya. Tercatat sedikitnya sembilan pedagang bendera Merah Putih berjualan mulai dari depan Taman Benyamin Sueb, yang berada di seberang Stasiun Jatinegara, hingga ke arah Pasar Mester.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pedagang Bendera Foto: Ignacio Geordy Oswaldo |
Tak hanya itu, di kawasan Pasar Mester Jatinegara, belasan lapak yang biasanya menjual perabot rumah tangga juga mulai menawarkan bendera dan atribut HUT RI. Sebagian pedagang memilih fokus menjual bendera dan atribut Merah Putih, sementara lainnya menjajakannya bersamaan dengan dagangan utama mereka.
Sementara itu, di sepanjang Jalan Matraman Raya, baru terlihat sekitar empat lapak yang menjual bendera dan atribut Merah Putih. Kondisi tersebut masih relatif sepi karena mayoritas pedagang kaki lima di kawasan itu baru mulai berjualan pada sore hari.
Harapan Panen Buyar
Salah seorang pedagang bendera dan aksesori Merah Putih di dekat Pasar Mester Jatinegara, Bodi, mengaku selalu membuka lapak setiap menjelang perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Pria yang sehari-hari berjualan perabot rumah tangga itu mengatakan telah menjalani usaha musiman tersebut selama lebih dari 35 tahun.
"Setiap tahun kita buka, dari tahun 1990-an sudah jualan. Dari dulu sudah jualan di sini, dari zaman orang tua yang buka toko. Kalau dari orang tua itu sudah dari 1980-an tiap tahun jual bendera dari akhir Juli sampai akhir Agustus," ujarnya saat ditemui detikcom.
Berbeda dengan kebanyakan pedagang musiman yang hanya berjualan hingga menjelang 17 Agustus, Bodi mengaku biasanya tetap membuka lapak sampai akhir bulan. Menurutnya, masih ada pelanggan yang membeli atribut Merah Putih setelah Hari Kemerdekaan.
Meski begitu, menurutnya penjualan bendera dan hiasan bernuansa Merah Putih tahun ini belum cukup signifikan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana akhir Juli dan awal Agustus merupakan periode paling ramai pembeli.
"Kalau melihat keuntungan ya, bukan bicara modal dan sebagainya, ya palingnya sekitar ada yang dapat Rp 2 juta, ada yang dapat Rp 1,5 juta, kadang ada yang dapat tipis cuma Rp 500.000. Pedagang di Jatinegara, bendera, kan orang-orang kita semua," kata Bodi.
"Itu sudah bukan kecil lagi, memang sudah sangat sedikit. Sekarang kan jualan bendera juga digempur online juga, padahal kalau di online kan mereka nggak bisa lihat ukuran atau bahan kan, ya beda harganya, kita yang murah kayak online juga jual, tapi kan beda kualitasnya, mereka maunya yang bagus tapi harga online," ucapnya lagi.
Ada juga pedagang bendera dan atribut kemerdekaan yang mangkal di Jl. Bekasi Raya, Ali. Ia mengaku baru pertama kali membuka lapak di kawasan tersebut. Pada tahun-tahun sebelumnya, ia biasa membuka lapak di Pamulang, Tangerang Selatan, meski barang dagangannya tetap diambil dari Jatinegara.
Ali mengaku telah menjadi pedagang musiman selama lebih dari delapan tahun. Di luar musim perayaan kemerdekaan, ia bekerja sebagai penjaga toko elektronik di salah satu kios yang berada tak jauh dari lokasi lapaknya.
Ia mengatakan biasanya berjualan dengan modal dari sang bos menggunakan sistem bagi hasil. Namun, tahun ini ia hanya ditugaskan menjaga lapak milik bosnya.
"Kalau jualan di sini baru tahun ini, sebelumnya di Pamulang. Kalau ambil barang setiap tahun memang di sini, kan bos di sini. Cuma tahun ini ditarik sama bos, suruh jualan saja di sini, ya saya ikut saja," ungkap Ali.
Pedagang Bendera Foto: Ignacio Geordy Oswaldo |
Ali mengatakan jumlah pelanggan yang datang mencari bendera dan hiasan kemerdekaan tahun ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya itu, banyak calon pembeli juga menawar harga hingga mendekati modal, sehingga keuntungan yang diperoleh pedagang semakin tipis.
"Tadi saja ada yang tawar beli bendera backdrop Rp 65.000 per meter, padahal kita modal Rp 75.000. Kalau saya terima ya rugi Rp 10.000 per meter. Padahal sekarang kita juga nggak cari untung banyak, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 20.000 kita kasih. Beda sama dulu di Pamulang, kita modal Rp 75.000 bisa jual Rp 200.000. Soalnya di sana kan nggak banyak yang jual, kalau di sini kan jatuhnya sudah grosir, bos-bos pada ngumpul di sini jadi harganya nggak bisa naik tinggi," jelas Ali.
Terlepas dari itu, Ali mengaku berjualan bendera Merah Putih tidak selalu mendatangkan keuntungan. Ada kalanya hasil penjualan tidak sesuai harapan hingga membuatnya merugi.
"Pernah saya juga minus sama bos, saya pernah. Saya pernah minus Rp 1,2 juta pas jualan sebulan itu. Bukan pas jualan tahun lalu. Tahun lalu saya masih dapat untung, tahun kemarinnya lagi juga masih dapat untung. Jadi tiga tahun yang lalu lah ya, pas 2023," paparnya.
Simak juga Video 'Di Balik Bentangan Merah Putih Sepanjang 600 Meter di Kaki Arjuno':












































