Serapan Tenaga Kerja Tembus 1,45 Juta Orang di Tengah Badai PHK

Serapan Tenaga Kerja Tembus 1,45 Juta Orang di Tengah Badai PHK

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 05 Agu 2026 21:55 WIB
Karyawan memeriksa transformator produksi  PT. Elsewedy Electric Indonesia (EEI), Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (8/3/2022). Elsewedy Electric Indonesia mendukung program pemerintah Indonesia untuk menciptakan kemudahan akses mendapatkan listri
Ilustrasi.Foto: Rachman_punyaFOTO
Jakarta -

Jumlah serapan tenaga kerja sepanjang semester I 2026 tembus 1,45 juta orang. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, angka ini naik 15% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Menurut Airlangga penyerapan tenaga kerja terjadi di tengah kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi di Tanah Air. Dalam kondisi itu Airlangga menyebut serapan tenaga kerja baru tetap meningkat tinggi.

"Kemudian jumlah tenaga kerja yang terserap di semester satu 2026 sebesar 1,45 juta tenaga kerja langsung dan dibandingkan tahun lalu ini naik 15%.
Jadi jumlah orang yang bekerja terekrut lebih banyak 15% dari tahun lalu. Dan di tengah adanya beberapa isu ataupun kasus-kasus PHK tetapi jumlah orang yang dipekerjakan dengan lapangan kerja baru, investasi baru meningkat dengan tinggi," ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Airlangga menjelaskan angka serapan tenaga kerja berasal dari investasi yang masuk ke Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi pada paruh pertama tahun 2026 mencapai Rp 1.010 triliun.

Sektor hilirisasi dan manufaktur menjadi dua sektor dominan yang menyerap tenaga kerja. Menurut Airlangga, 30% realisasi investasi tersebut masuk ke proyek hilirisasi.

ADVERTISEMENT

"Pertumbuhan tenaga kerja itu akibat dari investasi, dan investasi 30% ke hilirisasi, kemudian juga di pulau Jawa itu masuknya ke manufaktur. Jadi sektor itulah yang menjadi salah satu penopang untuk peningkatan penyerapan daripada tenaga kerja," terang Airlangga.

Selain itu, sektor industri makanan dan minuman juga menyerap tenaga cukup tinggi. Kemudian ada sektor tourism atau pariwisata yang merekrut banyak tenaga kerja.

"Kemudian yang kedua dari segi serapan, (industri) makanan minuman dan juga turis lokal maupun wisman. Itu sektor mamin juga mendorong karena dia tumbuh sekitar 10%. Jadi dua sektor itu menjadi sektor yang merekrut cukup banyak tenaga kerja," tutup Airlangga.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads