Ketidaksesuaian kualifikasi atau mismatch antara kemampuan angkatan kerja dengan kebutuhan industri masih menjadi persoalan. Namun, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yasierli menilai fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menyebut kebutuhan skill di sektor industri bergerak sangat cepat seiring masifnya disrupsi kecerdasan buatan (AI) hingga otomasi.
"Kalau mismatch itu kan tantangan yang sudah lama, jadi tidak hanya di Indonesia, hampir di semua negara. Apalagi ketika di industri sendiri selalu terjadi perubahan terkait proses mereka, disrupsi AI, otomasi dan seterusnya. Jadi, memang di satu sisi tuntutan dari industri terkait dengan kebutuhan skill, pekerja itu semakin cepat berubah," kata Yassierli di kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam hal ini, institusi pendidikan melalui dukungan pemerintah harus terus beradaptasi agar jurang mismatch bisa ditekan. Dalam menghadapi masalah tersebut, pemerintah meluncurkan program prioritas berupa pemagangan nasional dan pelatihan vokasi nasional.
"Dan di lain sisi kita harus dari institusi pendidikan dan tentu didukung pemerintah kita harus terus melakukan penyesuaian agar mismatch yang tadi disebutkan tidak terjadi.Program pemerintah pemagangan nasional, vokasi nasional, tujuannya mengurangi mismatch tadi. Pemagangan untuk lulusan perguruan tinggi, pelatihan vokasi untuk lulusan SMA dan SMK," bebernya.
Magang nasional menyasar 150 ribu lulusan perguruan tinggi, sementara pelatihan vokasi menyasar 270 ribu lulusan SMA dan SMK. Skema ini disiapkan agar peserta bisa meningkatkan kompetensi maupun mengantongi pengalaman kerja.
"Targetnya besar, walaupun belum menjawab jumlah total semua angkatan kerja yang baru. Jadi kalau pemagangan 150 ribu, vokasi 270 ribu, itulah yang sekarang bagaimana negara hadir. Kita ingin yang lulus SMK bisa meningkatkan kompetensi, lulusan perguruan tinggi mendapatkan pengalaman di tempat kerja," imbuhnya.
Yasierli menambahkan, hasil evaluasi sementara menunjukkan perkembangan yang positif. Pemerintah pun berkomitmen terus membenahi program ini demi memperbesar peluang penyerapan tenaga kerja di industri.
(ily/ara)









































