Pemerintah Jamin Kualitas Gizi MBG Nggak Terpengaruh Laju Inflasi

Pemerintah Jamin Kualitas Gizi MBG Nggak Terpengaruh Laju Inflasi

Amanda Christabel - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2026 18:13 WIB
Sejumlah petugas mengemas makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Polres Aceh Barat, Aceh, Kamis (6/8/2026). Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan seluruh SPPG atau dapur Program MBG
Dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Bogor -

Pemerintah menjamin kandungan gizi di tiap ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) tak bakal terganggu meskipun inflasi tembus 0,30% per September 2026. Inflasi dipicu lonjakan harga cabai dan ayam.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung kondisi harga komoditas pangan yang mendorong naiknya inflasi tak akan mengurangi kadar gizi di MBG. Dia menyebut, selama kisaran inflasi RI berada di angka 2,5% plus minus 1% itu masih dalam kapasitas anggaran program MBG.

"Dampak dari inflasi kepada MBG, saya kira, kalau inflasinya masih 2,5% plus minus 1% itu tidak akan memengaruhi kualitas makanannya dan kualitas gizinya. Oleh sebab itu, memang inflasi ini penting untuk dijaga," ujar Juda dalam Media Gathering di Bogor, Kamis (1/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Juda menyebut penting bagi pemerintah menjaga angka inflasi, terutama untuk komoditas pangan. Hal ini karena harga pangan akan sangat berdampak dan terasa langsung ke masyarakat, terutama lapisan masyarakat menengah ke bawah.

"Terutama yang terkait dengan inflasi pangan, ini yang mengena langsung pada masyarakat. Masyarakat di (lapisan) tengah ke bawah ini memang benar-benar harus dikendalikan," sambung Juda

ADVERTISEMENT

"Sebab itu, soal pengendalian harga pangan ini 'kan terus dilakukan oleh pemerintah dengan Bank Indonesia, Kementerian Dalam Negeri, dan seterusnya," tambahnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok pengeluaran yang mendorong inflasi pada September 2026 adalah makanan, minuman dan tembakau, dengan inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,26%.

Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi besar adalah cabai rawit dengan inflasi sebesar 0,08%, daging ayam ras dengan inflasi sebesar 0,05%, dan beras dengan inflasi sebesar 0,03%.

Selain itu, telur ayam ras juga mengalami inflasi sebesar 0,02%, serta ikan segar dan kangkung yang mengalami inflasi yang masing-masing sebesar 0,01%. Terkait dengan produksi komoditas hortikultura, seperti cabai rawit, mengalami penurunan produksi di beberapa daerah sentra seperti di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Lalu, cabai merah mengalami penurunan produksi terutama di beberapa daerah sentra seperti Bandung, Garut, dan Malang.

Selain itu, terjadi peningkatan kebutuhan daging ayam ras pada kondisi September 2026, antara lain didorong oleh kebutuhan program MBG di beberapa daerah serta juga ada kenaikan harga pakan ternak.

(ach/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads