Follow detikFinance
Selasa 03 Jun 2014, 15:26 WIB

Jokowi vs Prabowo Ketat, Pasar Wait and See

- detikFinance
Jokowi vs Prabowo Ketat, Pasar Wait and See
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, lembaga riset Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny JA mengadakan survei untuk menentukan elektabilitas dua pasang capres-cawapres, Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Hasilnya, pilpres 9 Juli mendatang diperkirakan berjalan sengit.

Survei mereka menyebutkan bahwa elektabilitas Jokowi-JK adalah 35,42%. Sementara pasangan Prabowo-Hatta punya elektabilitas 22,75%.

"Kedua pasangan ini punya peluang menang yang sama karena masih ada 41,83% yang belum menentukan pilihan," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny JA, Ardian Sopa, di kantornya di Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Selasa (20/5/2014).

Hasil survei tersebut menggambarkan bahwa "pertarungan" antara Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta akan berlangsung sengit. Ini pun berpengaruh kepada para pelaku pasar.

Beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat cenderung melemah. Bahkan hari ini dolar diperdagangkan mendekati level Rp 12.000.

Selain respons investor atas neraca perdagangan April yang mencatat defisit US$ 1,9 miliar, ternyata ketidakpastian politik juga ikut mempengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

"Politik memang masih aman. Tapi sekarang pelaku pasar tidak tahu siapa yang akan menang di pilpres," ujar Juniman, Kepala Ekonom BII, ketika berbincang dengan detikFinance, Selasa (3/6/2014).

Saat ini, lanjut Juniman, dua kandidat dinilai sudah sama kuat. Artinya, masih ada ketidakpastian seputar siapa yang akan jadi orang nomor 1 di Indonesia selama 5 tahun mendatang.

"Pasar melihat ini sebagai sebuah ketidakpastian. Jadi mereka lebih bersikap wait and see," kata Juniman.

Namun pasca pilpres, lanjut Juniman, diperkirakan akan terjadi euforia menyambut presiden baru. Pasar modal bisa jadi akan kebanjiran dana, dan itu akan memperkuat nilai tukar rupiah.

"Jadi pelemahan rupiah saat ini sepertinya hanya temporer. Saya juga tidak melihat akan ada pelemahan lebih dalam. Arahnya mungkin tidak akan sampai ke Rp 12.000 per dolar AS," kata Juniman.

Untuk hari ini, Juniman memperkirakan dolar akan diperdagangkan di kisaran Rp 11.750-11.900. Sementara untuk pekan ini, dia memperkirakan dolar berada di level Rp 11.700-11.900.

 
(hds/hen)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed