Follow detikFinance
Kamis 20 Aug 2015, 16:59 WIB

Dolar Tembus di Rp 13.900, Ini 7 Kebijakan BI

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Dolar Tembus di Rp 13.900, Ini 7 Kebijakan BI
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menerapkan beberapa kebijakan untuk menahan pelemahan rupiah atau dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar yang tembus Rp 13.900 bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas perekonomian.

Setidaknya ada 7 kebijakan yang dilakukan BI untuk mengerem bahkan menurunkan pergerakan dolar.

Pertama, BI akan melakukan intervensi di pasar valas untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah dengan menggunakan cadangan devisa. Kedua, melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, namun tetap memperhatikan dampak ketersediaan SBN untuk masuknya dana asing, dan likuiditas pasar.

"Kami juga memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT) guna mengalihkan likuiditas harian tenor yang lebih panjang," kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Monoter BI, Juda Agung, saat jumpa pers di kantor BI, Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Dalam operasi pasar terbuka, BI akan menyerap likuiditas perbankan yang berlebih dan menempatnya pada instrumen yang bersifat jangka panjang.

Setidaknya ada 3 langkah yang diambil dalam Operasi Pasar Terbuka. BI akan mengubah mekanisme lelang Reverse Repo (RR) SBN dari variable rate tender menjadi fixed rate tender, kemudian menyesuaikan pricing RR SBN dan memperpanjang tenor dengan menerbitkan RR SBN 3 bulan.

Masih dalam Operasi Pasar Terbuka, BI akan mengubah skema lelang Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dari variable rate tender menjadi fixed rate tender dan menyesuaikan pricing serta menerbitkan SDBI tenor 6 bulan.

"BI kembali menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 9 bulan dan 12 bulan dengan mekanisme lelang fixed rate tender dan menyesuaikan pricing," ujarnya.

Masuknya konsep fixed rate bertujuan, merangkang perbankan menyempatkan dana berlebih pada instrumen milik BI. Perbankan bisa menghitung kepastian penawaran mereka bisa diterima oleh BI. Selain itu, BI tentunya menawarkan bunga yang menarik.

Kebijakan keempat yang dikeluarkan adalah, menyesuaikan frekuensi lelang Foreign Exchange (FX) Swap, dari 2 kali seminggu menjadi 1 kali seminggu.

Lalu kelima, mengubah mekanisme lelang Term Deposit (TD) Valas, dari variable rate tender menjadi fixed rate tender, menyesuaikan harga (pricing) dan memperpanjang tenor sampai 3 bulan.

Kebijakan keenam adalah, menurunkan batas pembelian valas tanpa pembuktian dokumen underlying transaction, dari yang berlaku saat ini US$ 100.000 menjadi US$ 25.000 per nasabah per bulan.
 
"Nasabah juga wajib melampirkan NPWP (nomor pokok wajib pajak). Ini bertujuan agar yang masuk ke pasar dolar hanya mencari keuntungan atau spekulan," ujarnya.

Kebijakan terakhir, BI akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah, dan Bank Sentral negara lain untuk memperkuat cadangan devisa.

Pada kesempatan itu, Juda menyebut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah di luar batas kewajaran. Alhasil, BI perlu mengambil atau mengeluarkan langkah strategis. Meski demikian, Juda tidak bisa menerangkan target nilai tukar rupiah pasca kebijakan pengendalian dolar ini.

"Target tidak bisa sampaikan. Tapi kita punya hitungan fundamental. Kami katakan sekarang sudah under value (di bawah nilai wajar)," ujarnya.

(feb/dnl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed