Follow detikFinance
Jumat 09 Feb 2018, 11:49 WIB

OJK Sebut Investasi Efek Beragun Aset Rp 2,7 T Masih Kecil

Hendra Kusuma - detikFinance
OJK Sebut Investasi Efek Beragun Aset Rp 2,7 T Masih Kecil Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan, pemanfaatan instrumen Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) masih belum maksimal.

Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi mengatakan, total penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) sampai Desember 2017 mencapai Rp 383 triliun, namun yang disekuritisasi menjadi EBA-SP kurang dari 1% atau sekitar Rp 2,7 triliun.

"Berdasarkan catatan yang ada di OJK, kredit penyaluran rumah yang disalurkan oleh perbankan hingga Desember 2017, sudah mencapai Rp 383 triliun, tapi yang baru dilaksanakan sekuritisasinya baru berjumlah Rp 2,7 triliun. Masih kurang lebih baru 1% dari jumlah kredit KPR yang disampaikan," kata Riswinandi di saat acara Sosialisasi EBA-SP di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/2/2018).

EBA-SP adalah efek yang berbentuk seperti obligasi ataupun saham yang diterbitkan melalui penawaran umum ataupun private placement. Penerbitan EBA-SP dilakukan dalam rangka sekuritisasi. Penerbit EBA-SP akan membeli kumpulan piutang yang merupakan aset keuangan dari kreditur asal.

Aset keuangan yang dibeli hanya dibatasi pada piutang kredit pemilikan rumah (KPR). Penerbitan efek ini hanya bisa dilakukan perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan sekunder perumahan. Di Indonesia perusahaan yang sesuai ketentuan tersebut adalah PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Riswinandi menceritakan, sekuritisasi aset ini menjadi alternatif pemenuhan pembiayaan KPR, di mana pemerintahan Kabinet Kerja memiliki program sejuta rumah namun gap pendanaan KPR masih kurang sehingga mendapat alternatif pembiayaan.

"Sekuritisasi aset piutang KPR bisa menjadi salah satu alternatif dalam menghadapi masalah miss match tadi dalam pembiayaan pemilikan rumah tersebut," tambah dia.

"Sekuritisasi merupakan transformasi aset yang tidak likuid menjadi likuid dengan cara pembelian aset keuangan dari kreditur asal atau penerbit KPR oleh si penerbit efek beragun aset," jelas dia.

Menurut Riswinandi, EBA-SP menjadi alternatif pendanaan jangka panjang dan memiliki risiko yang relatif kecil. Aset yang dimanfaatkan juga sudah mendapat rating dari Pefindo.

"Mudah-mudahan ini bagi investor jasa keuangan ini merupakan hal yang transparan bahwa aset ini yang mendasari EBA-SP ini udah seleksi dengan baik," kata dia.

Pemanfaatan EBA-SP sampai Desember tahun lalu juga masih kecil yakni sebesar Rp 2,1 triliun. Di mana yang memanfaatkan instrumen tersebut paling besar berasal dari dana pensiun (dapen) kurang lebih 45,2%, diikuti perusahaan penjaminan dan SMF sekitar 40,3%, sedangkan sisanya ada yayasan asuransi dan perbankan.

"Kami mendorong lembaga keuangan non bank dan perbankan untuk bisa bersama meningkatkan investasi melalui instrumen EBA-SP. Individu juga bisa lebih aktif dalam mendukung instrumen EBA-SP," tutup dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed