Follow detikFinance
Jumat, 18 Mei 2018 13:56 WIB

Ini Alasan Pemerintah Ramal Dolar AS Rp 13.700-14.000 di 2019

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah memaparkan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal (KEM PPKF) Tahun Anggaran 2019 kepada dewan perwakilan rakyat (DPR).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam paparannya menyebutkan asumsi dasar seperti pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4-5,8%, inflasi di kisaran 2,5-4,5%, harga minyak US$60-70 per barel, dan nilai tukar Rp 13.700-14.000 per dolar AS.


Sri Mulyani menyebutkan tingginya asumsi nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) di 2019 karena sudah menghitung depresiasi rupiah terhadap dolar AS sejak awal 2018 hingga sekarang.

"Sekarang yang sudah terjadi kan pada depresiasi di tingkat 3% kan pada kisaran seperti itu," kata Sri Mulyani di komplek parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (18/5/2018).


Dengan tetap menjaga inflasi di level rendah atau sesuai asumsi yang sebesar 3,5% plus minus 1%. Sri Mulyani menyebutkan bahwa usulan nilai tukar pada tahun depan masih bisa diterima.

"Kalau inflasi kita tetap terjaga pada kisaran 3,5% plus minus 1, sementara di Amerika (Serikat) sekitar 2%, maka depresiasi pada level 3% masih acceptable (bisa diterima). Artinya memang sesuai dengan komparasi mata uang antara kita dengan AS," tutup dia. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed