Follow detikFinance
Minggu, 22 Jul 2018 13:43 WIB

Dolar AS Tembus Rp 14.555, Darmin: Enggak Ada Bahayanya

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul/detikFinance Foto: Selfie Miftahul/detikFinance
Jakarta - Nilai tukar Rupiah kembali tersungkur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada Jumat kemarin mata uang Paman Sam itu sudah tembus Rp 14.555.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, pelemahan rupiah belum mengkhawatirkan. Sebab dari sisi poin pelemahan rupiah masih tidak terlalu besar.

"Jadi jangan menganggap kurs itu kalau masih perubahan Rp 50 atau Rp 100 itu bahaya, enggak ada bahayanya di situ," tuturnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Minggu (22/7/2018).


Darmin menjelaskan, pelemahan rupiah saat ini dibebani oleh dua kondisi global. Pertama adanya dampak perang dagang antara AS dan China yang membuat negara-negara maju ikut melakukan normalisasi kebijakan moneter.

Kedua ada sentimen dari sinyal Bank Sentral AS Federal Reserve yang hendak kembali menaikan suku bunga beberapa tahap di tahun ini. Tujuannya agar kembalinya dana-dana ke AS.

"Jerome Powell Gubernur The Fed itu mengumumkan bahwa The Fed akan mendorong supaya inflasi di AS meningkat. Kan persoalan mereka inflasi terlalu rendah," tambahnya.

Menurutnya bukan hanya negara berkembang saja yang kesal atas hal itu. Presiden AS Donald Trump pun menurut Darmin ikut kesal.

"Bukan cuman kita bahkan Trump saja mulai marah, Ini The fed kerjaannya menaikkan tingkat bunga saja. Sudah ada itu komentar itu dari Trump," tambahnya.

Meski begitu, sebagian dari negara di dunia tidak khawatir dengan itu. China misalnya dia sengaja mata uangnya terus jatuh, tujuannya agar barang-barang China yang masuk ke AS harga bisa lebih murah. Maklum AS menaikkan tarif bea masuk untuk produk-produk dari China.

"Begitu mata uang di! terus melemah dia enggak mau intervensi. Nah negara-negara di sekitar dia ikut melemah ya. Nah memang masyarakat kita banyak sekali yang sebetulnya tidak melek urusan begini ini," tambahnya.


Meski begitu, Darmi menegaskan pemerintah BI dan OJK tentu tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. Pemerintah akan berupaya untuk memberikan suplemen agar Rupiah bisa kembali menguat.

"Kebijakan-kebijakan yang kita ambil termasuk dengan BK dan OJK tidak akan membiarkan pelemahan itu terlalu jauh. Bukan berarti kalau sudah Rp 20.000 tidak apa-apa, ya itu apa-apa. Kita akan usahakan pelemahannya jangan terlalu jauh," tutupnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed