Follow detikFinance
Senin, 10 Sep 2018 12:55 WIB

Sri Mulyani: Dolar AS Januari-September Rata-rata Rp 13.977

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang/detikcom Foto: Lamhot Aritonang/detikcom
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terhitung dari Januari sampai 7 September 2018 sebesar Rp 13.977 per US$.

Hal itu dkemukankannya pada saat rapat kerja (raker) pemerintah dengan Komisi XI DPR tentang RAPBN tahun anggaran 2019.

"Tanggal 7 September 2018 tercatat Rp 14.848 per US$. Kalau dihitung rata-rata dari Januari adalah Rp 13.977 per US$, ini rata-rata 8 bulan plus 7 hari," kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (10/9/2018).

Sri Mulyani mengatakan nilai rata-rata kumulatif rupiah yang sebesar Rp 13.977 per US$ itu pun masih di bawah dari asumsi nilai tukar pada tahun depan yang ditetapkan dalam RAPBN sebesar Rp 14.400 per US$.



Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini juga mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan dipengaruhi oleh normalisasi kebijakan moneter di negeri Paman Sam, ditambah dengan perang dagang.

Dia menceritakan, arus modal yang keluar atau capital outflow mayoritas dialami oleh negara-negara berkembang, khususnya Indonesia. Hal itu juga akan berdampak pada transaksi berjalan yang saat ini masih mengalami defisit.

"Dua tahun lalu capital inflow US$ 29 miliar sehingga bisa dibiayai CAD. Namun 2018 dinamika berubah, capital inflow tidak sekuat 2016 dan 2017, inilah yang diwaspadai, di AS versus mitra dagangnya, kebijakan moneter yang cenderung meningkat dan capital outflow. Itu yang menentukan sentimen ke rupiah kita," jelas dia.

Oleh karenanya, Bendahara negara ini meminta kepada seluruh anggota Komisi XI untuk membahas lebih dalam lagi terkait dengan nilai tukar, khususnya harus ada perubahan atau tidak.

"Ini yang perlu dibahas, untuk mendapatkan angka paling kredibel, namun tetap confident yang menjadi dasar, tentu kurs domainnya BI, namun diperlukan untuk menghitung konsekuensi dari belanja dan penerimaan," ungkap dia.

Pemerintah menyampaikan asumsi dasar di tahun 2019 seperti pertumbuhan ekonomi tetap sebesar 5,3%, tingkat inflasi di level 3,5%, nilai tukar Rp 14.400 per US$, dan tingkat suku bunga SPN 5,3%.


Saksikan juga video 'Soal Imbas Krisis Turki, Sri Mulyani: Ekonomi RI Kita Jaga':

[Gambas:Video 20detik]

(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed