Follow detikFinance
Selasa, 25 Sep 2018 14:15 WIB

Dolar AS Pernah Rp 10.000-an, Bisakah Seperti Itu Lagi?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta -
Kondisi nilai tukar mata uang saat ini baik di dunia maupun di Indonesia sedang memasuki keseimbangan baru.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menjelaskan saat ini otoritas keuangan dan moneter berupaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Saat ini kita sudah ada di keseimbangan baru, ya tidak memungkinkan kita bisa kembali ke penguatan ke posisi Rp 10.000, saat itu kondisi likuiditas dunianya bebreda, kebutuhan untuk valuta asing (valas) berbeda," kata Halim di sela acara LPS Research Fair di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Berdasarkan data Reuters dolar AS memang pernah berada di kisaran Rp 8.000 an sampai Rp 10.000-an pada tahun 2012 pertengahan 2013.
Dia menjelaskan, kondisi beberapa tahun sebelumnya juga memiliki indikator bunga acuan yang rendah. Saat ini Indonesia sudah memasuki keseimbangan baru, Bank Indonesia (BI) juga sudah merespon dengan kebijakan suku bunga yang sesuai dengan target inflasi.
Halim menjelaskan, jika suku bunga di dunia naik maka negara lain termasuk Indonesia akan mencari keseimbangan baru lagi.

"Jadi begini, kalau ada kondisi suku bunga naik, maka keseimbangannya akan berubah lagi. Kalau The Fed bunganya naik, maka tak hanya di Indonesia negara lain juga likuiditasnya akan berkurang karena uangnya kembali," imbuh dia.
Mengutip Reuters pukul 13.00 WIB dolar AS tercatat Rp 14.905. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS tercatat Rp 14.893.


Saksikan juga video 'Dolar Menguat, Apa yang Bisa Dilakukan Rakyat Indonesia?':

[Gambas:Video 20detik]

(kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed