Follow detikFinance
Rabu, 26 Sep 2018 17:37 WIB

Sempat Ngamuk ke Rp 14.935, Sore Ini Dolar AS Jinak ke Rp 14.896

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terpantau mulai jinak meski posisinya masih tergolong tinggi.

Mengutip data perdagangan Reuters, Rabu (26/9/2018), pagi ini dolar AS tercatat menguat ke angka Rp 14.935.

Dolar AS bergerak dari level Rp 14.915 hingga 14.935. Nilai itu merupakan posisi yang tertinggi sejak awal pekan kemarin. Di awal pekan kemarin, dolar AS tertinggi di Rp 14.910, dolar AS juga sempat sentuh level terendah ke Rp 14.830.

Jelang siang, dolar AS masih terpantau galak di kisaran Rp 14.930-14.935. Namun lajunya mulai terkendali jelang sore ini menjadi Rp 14.896.



Kondisi rupiah pekan ini tercatat jauh lebih lemah dibanding pekan lalu yang sempat mengalami penguatan hingga ke posisi Rp 14.810-an. Awal pekan rupiah memang masuk ke dalam tiga negara Asia yang mengalami pelemahan cukup besar setelah rupe (India) dan peso (Filipina).

Adanya antisipasi atas potensi kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan terjadi pekan ini turut menjadi salah satu sentimen. Di IHSG, pelaku pasar asing membukukan aksi beli bersih (Netbuy) sebesar Rp 587 miliar.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan nilai rupiah tertekan dari dolar AS. Menurut dia, saat ini investor memilih untuk waspada di awal pekan perdagangan ini setelah China membatalkan rencana negosiasi dagang dengan pemerintah AS pada akhir pekan lalu.

"Statement Presiden AS Donald Trump soal tarif US$ 200 miliar barang China membuat kondisi makin memburuk. China diperkirakan akan membalas dengan US$ 60 miliar barang AS," kata Lukman dalam keterangannya.



Dia mengungkapkan, walaupun sentimen pasar tetap sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi dagang global, fokus cukup besar juga akan tertuju pada rapat The Fed pekan ini. Suku bunga AS diprediksi akan ditingkatkan di bulan September dan mungkin ditingkatkan kembali untuk keempat kalinya di bulan Desember.

Kenaikan suku bunga mendatang ini sudah sangat diperhitungkan dalam harga saat ini, namun masih dapat memicu arus keluar modal dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Lukman menjelaskan, Bank Indonesia pekan diperkirakan akan meningkatkan suku bunga untuk kelima kalinya sejak pertengahan bulan Mei.

"Kenaikan suku bunga mungkin dapat membantu rupiah, namun penurunan berulang kali dalam beberapa pekan terakhir memastikan bahwa rupiah tetap tertekan oleh berbagai faktor eksternal," ujar dia.

Selanjutnya Ketegangan dagang AS-China memicu ketidakpastian dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendukung Dolar AS sehingga rupiah tetap rentan mengalami kejutan negatif. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed