Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 01 Nov 2018 18:55 WIB

Kuartal III/2018, BFI Finanace Cetak Laba Rp 1,1 T

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Hingga triwulan ketiga 2018, PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) mencatat peningkatan laba bersih sebesar 30% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,1 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 27,5% menjadi Rp 3,7 triliun pada kuartal ketiga 2018.

Efek kenaikan suku bunga belum berdampak signifikan bagi Perusahaan.

"Di tengah momentum kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang USD serta kondisi bisnis yang cukup menantang di kuartal ini, kami tetap mampu mencatat pertumbuhan yang sehat sesuai rencana kerja yang ditetapkan," ujar Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BFI Finance, Sudjono, dalam keterangan resminya dikutip Kamis (01/11/2018).


Kebijakan dari Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuannya pada Mei 2018 menjadi akhir dari periode suku bunga level terendah 4,25% yang sudah berlangsung sejak September 2017.

Selanjutnya, suku bunga acuan terus meningkat hingga mencapai 5,75% pada September lalu, atau naik 150 bps hanya dalam waktu empat bulan.

Kebijakan itu tentu saja berpengaruh pada cost of fund industri pembiayaan. Untuk mengimbangi kenaikan tersebut, BFI Finance turut menaikkan bunga pembiayaannya antara 0,5%-1,0% di bulan September 2018.

Penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp 12,7 triliun sampai kuartal tiga 2018 atau 24,2 % lebih tinggi dari periode yang sama di 2017 sebesar Rp 10,2 triliun.

Dari nilai pembiayaan baru tersebut, pembiayaan mobil bekas masih mendominasi dengan komposisi nilai pembiayaan sebesar 68%, diikuti dengan pembiayaan motor sebesar 15%, alat berat dan machinery sebesar 14%, serta mobil baru dan properti dengan kontribusi masing-masing sebesar 2% dan 1%.

Keseluruhan pencapaian itu mendongkrak pertumbuhan piutang bersih sebesar 24,5% year on year (yoy) menjadi Rp17,7 triliun dengan total aset sebesar Rp19,4 triliun atau meningkat 26,8% dari periode yang sama di 2017.

Non-performing financing (NPF) pun dilaporkan stabil di kisaran 1,2%, sama jika dibandingkan dengan kuartal II 2018.

Angka ini masih jauh lebih baik dibandingkan angka NPF industri yang menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkisar di angka 3,1%.

Analis Indo Premier Sekuritas, Mino, mengungkapkan pada dasarnya, pergerakan saham akan sejalan dengan sisi fundamental perusahaan.

"Kalau ada perbaikan fundamental akan direspon positif," ucapnya.


Mino menyebut, kenaikan harga saham termasuk saham BFIN pada beberapa hari terakhir lebih kepada kinerja.

"Secara umum, kalau kinerjanya bagus, sahamnya akan direspon positif," tegasnya.

Khusus industri pembiayaan yang menjadi bisnis utama BFI Finance, menurutnya, memang tergantung jenis pembiayaannya.

"BFIN kan otomotif, memang mulai ada perbaikan (di sektor otomotif) walaupun belum terlalu signifikan," terusnya.

Dengan asumsi industri otomotif melanjutkan pemulihan maka kinerja BFI Finance berpotensi terus membaik. "Tantangannya adalah suku bunga dan depresiasi rupiah. Maka ketika ada growth (di tengah tantangan suku bunga dan nilai tukar), potensial naik sahamnya," yakinnya.


Pada penutupan perdagangan Kamis (01/11), saham BFIN naik 20 poin (3,77 persen) ke level Rp550 per saham.

Sampai dengan kuartal III 2018, BFI Finance telah memperluas jaringan penjualannya dari Sumatera Utara hingga Papua dengan sebaran outlet sebanyak 389 outlet, dimana 4 di antaranya terdapat Unit Usaha Syariah. Jumlah ini merupakan peningkatan 47 outlet sejak akhir 2017. (dna/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com