Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 10 Des 2018 14:28 WIB

Penjelasan BI soal Dolar AS yang Gencet Rupiah ke Rp 14.535

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Nilai tukar rupiah hari ini mengalami tekanan oleh dolar Amerika Serikat (AS). Dari data Reuters dolar AS tercatat Rp 14.535. Sementara dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat Rp 14.517.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan pihaknya tengah merespons pelemahan di sesi pagi ini dengan kembali melakukan intervensi di pasar Domestik Non Deliverable Forward (DNDF).

Dia menjelaskan pelemahan rupiah di sesi pagi masih disebabkan oleh kekhawatiran melemahnya ekonomi AS pasca rilis data Nonfarm Payroll AS bulan November 2018. Kemudian penyerapan angkatan kerja hanya tumbuh 155.000 jauh, lebih rendah dari perkiraan 198.000 dan rata-rata tahun 2018 sebesar 206.000.

"Ini menambah tekanan sell-off di pasar saham AS, yang sebelumnya sudah tertekan akibat memanasnya kembali tensi perang dagang AS-China, pasca negosiasi kedua negara sela sela forum G20, dimana Indeks S&P 500 sudah anjlok 4,4 % dalam sepekan terakhir," kata Nanang, Senin (10/12/2018).


Dia menambahkan kekhawatiran melambatnya ekonomi AS juga tergambar di yield US Treasury Bond 10 tahun di level 8,3%, mengakibatkan selisih yield antara 3 dan 5 tahun US Treasury Note menjadi semakin negatif pertama kali sejak tahun 2007.

Menurut dia seharusnya harga saham yang merosot di AS yang bisa berdampak ke konsumsi AS melalui jalur wealth effect dan menurunnya yield obligasi AS yang menggambarkan ekspektasi pertumbuhan dan inflasi ke depan yang lebih rendah, akan menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan suku bunga the Fed di FOMC 18-19 Desember 2018 nanti, setidaknya untuk arah suku bunga di tahun 2019.


Di pasar uang, index future FFR dan Overnight Index Swap untuk tahun 2019 dan 2020 sudah bergerak di bawah dot-plot FOMC, artinya pasar berekspektasi The Fed akan mengurangi intensitas kenaikan suku bunga di tahun 2019, dan bisa kemungkinan mulai turun di tahun 2020.

"Dengan latar belakang tersebut, seharusnya tekanan pelemahan terhadap mata uang Emerging Market akan lebih kecil, dan rekasi pasar hari ini lebih karena terjadinya aksi flight quality atau knee-jerk reaction yang sifanya jangka pendek ketika pasar tiba-tiba menghadap ketidakpastian ke depan yang meningkat," imbuh Nanang.

Dalam merespon pergerakan Rupiah, Bank Indonesia kembali melakukan intervensi di pasar DNDF untuk mendorong "market liquidity" DNDF sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.



(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed