Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 14 Feb 2019 07:35 WIB

Tahun Politik, IHSG Bisa Tembus 7.000

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: detikcom Foto: detikcom
Jakarta - Pasar modal Indonesia tahun ini dipercaya kondisinya akan lebih baik. Meskipun tahun ini merupakan tahun politik.

Analis Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer bahkan memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan meroket ke posisi 7.000. Prediksi itu jauh lebih tinggi dibanding posisi IHSG akhir 2018 di level 6.194 yang tercatat turun 2,54% dibanding tahun sebelumnya.

"Kenapa positif memang salah satunya 2018 itu tahun yang menantang suku bunga global naik signifikan. Jadi negara yang status swing defisit itu banyak yang jadi target jual investor," ujarnya di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Tahun ini sendiri banyak pihak yang memprediksi pertumbuhan suku bunga global akan tertahan setelah tahun lalu begitu tinggi naiknya. Termasuk Bank Sentral AS yang dipercaya hanya menaikkan suku bunga 1 kali di tahun ini.

Selain itu, tahun lalu nilai tukar rupiah juga tertekan begitu dalam sehingga menjadi beban bagi laju IHSG. Tahun ini dipercaya nilai tukar rupiah akan lebih positif.

Dengan kondisi tersebut dipercaya investor asing yang di 2018 banyak melakukan aksi jual mulai kembali masuk ke pasar modal Indonesia.

Dari sisi emitennya sendiri, kinerja para perusahaan dipercaya juga akan lebih baik. Tanda perbaikan bisa dilihat dari pertumbuhan belanja modal yang dipersiapkan para emiten yang mulai cukup tinggi.


"Jadi kita lihat capex mulai positif dan di per 2018 mulai lewat titik 0%, dari sebelumnya mines 15%," tambahnya.

Penguatan IHSG tahun ini menurut Adrian sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pemilu. Memang dari sisi sejarah setiap pemilu IHSG selalu meroket. Misalnya pada 2009 IHSG naik 90,17%, lalu di 2014 juga naik 18,29%.

Namun penguatan itu menurutnya lantaran kebetulan di tahun sebelum pemilu selalu terjadi kejadian yang membuat pasar goyang. Di 2008 misalnya terjadi krisis ekonomi yang bersumber dari subprime mortage.

"Lalu di 2014 kita alami depresiasi karena taper tantrum, seluruh dunia kena. Tahun lalu rupiah begitu anjlok. Jadi kebetulan setiap pemilu ada kejadian. Mungkin beberapa orang melihatnya dikorelasikan setiap pemilu IHSH naik, padahal di tahun sebelumnya ada tekanan, dari jelek sekali tiba-tiba balik arah selaku seperti itu," tambahnya.



(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed