Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 02 Apr 2019 13:29 WIB

Etihad Lagi Berdarah-darah, Saatnya Merger dengan Emirates?

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Maskapai penerbangan Etihad Airways tengah memiliki masalah keuangan. Maskapai asal Abu Dhabi ini merugi sekitar US$ 4,7 miliar dalam tiga tahun terakhir.

Padahal, Etihad Airways dikenal sebagai perusahaan yang sering menyelamatkan maskapai lain dari kesulitan.

Mengutip CNN, Selasa (2/4/2019), Etihad Airways tengah dihadapi kondisi keuangan yang 'berdarah-darah' alias rugi. Hal ini juga menjadi pertimbangan untuk bergabung dengan tetangga yaitu Emirates.

Tiga tahun keuangan Etihad merugi karena investasi di Alitalia, Air Berlin, dan Jet Airways India tidak menghasilkan pendapatan yang baik. Itu juga karena persaingan industri penerbangan sedang mengetat.

Bersama dengan Emirates yang berbasih di Dubai dan Qatar Airwais, Etihad telah membantu mengubah penerbangan global dalam beberapa dekade terakhir. Di mana menjadikan Dubai sebagai hub untuk menerbangkan jutaan orang dari timur dan barat.

"Konsep menggunakan wilayah UEA sebagai titik penghubung untuk perjalanan udara Timur-Barat masuk akal hingga sekitar tiga tahun yang lalu, ketika arus lalu lintas cukup optimal," kata Mike Boyd, presiden perusahaan konsultan penerbangan, Boyd Grup Internasional.



Langit UAE menjadi wilayah yang tersibuk di dunia. Pada 2017, pemerintah menciptakan saluran udara baru untuk merampingkan volume lalu lintas yang sangat besar dan mengurangi penundaan.

Hasil dari analisis, apakah UEA masih membutuhkan dua maskapai besar. Emirates sebagai maskapai tertua di sana masih mengalami keuntungan selama tiga tahun terakhir. Keuntungannya karena pada 2017 berhasil bermitra dengan FlyDubai salah satu maskapai berbiaya rendah (LCC).

"Wilayah ini sekarang dalam kondisi kelebihan kapasitas, dan itu berarti beberapa konsolidasi mungkin dalam pengerjaan," ujar dia.

Emirates disebut-sebut sebagai penyelamat yang paling dimungkinkan bagi Etihad. Bahkan, Bloomberg pernah melaporkan pada September tahun lalu kedua maskapai sedang dalam pembicaraan mengenai merger menjadi maskapai terbesar di dunia.

Kedua maskapai ini juga sudah bekerja sama pada sektor keamanan penerbangan dan pemeliharaan pesawat. Etihad meminta anak perusahaan Emirates untuk mengelola customers service center miliknya.

Tidak ada yang bisa memastikan kedua maskapai tersebut telah membicarakan merger atau bukan. Namun, salah satu konsultan industri penerbangan Jhon Strickland menilai kedua maskapai tersebut ingin menciptakan efisiensi biaya.


Etihad Lagi Berdarah-darah, Saatnya Merger dengan Emirates?
(hek/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed