Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 13 Jun 2019 13:13 WIB

Hong Kong Rusuh, Sahamnya Berguguran

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Reuters Foto: Reuters
Jakarta - Puluhan ribu orang melakukan unjuk rasa di Hong Kong pada Rabu kemarin (12/6) untuk menolak undang-undang ekstradisi. Akibatnya pasar keuangan di negara itu jadi tertekan.

Hal itu terlihat dari pasar saham Hong Kong Indeks Hang Seng yang turun sebesar 1,7% pada penutupan. Kondisi ini juga paling berdampak pada saham properti lokal.

Aksi jual saham ini juga didasari kekhawatiran mengenai ekonomi global, khususnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta ekspektasi penurunan suku bunga Bank Sentral The Fed beberapa bulan ke depan.

Direktur penelitian broker KGI, Ben Kwong mengatakan dari adanya unjuk rasa tersebut sebagian saham lokal akan menurun. Hal ini lumrah setelah sebelumnya kondusif.

"Ini adalah reaksi normal ketika Anda mengalami keresahan sosial atau ketegangan, mengingat selama beberapa tahun ini kami relatif tenang," jelas dia dikutip dari Straits Times, Kamis (13/6/2019).


Selain itu, perbankan juga terlihat menaikkan suku bunga antarbank. Tercatat, biaya pinjaman antarbank atau Hibor naik 29 basis poin ke angka 2,42%. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak tahun 2008.

Nilai mata uang dolar Hong Kong juga menguat sebesar 0,26%. Saat ini pun, nilai tukar dolar Hong Kong ke dolar AS berada di angka 7,75 hingga 7,85.

Kemudian, suku bunga di Hong Kong biasanya sejalan dengan The Fed. Padahal, suku bunga biasanya di pertengahan tahun dicatat lebih tinggi dengan likuiditas yang ketat.

Sementara itu, dua analis di Hong Kong menilai adanya unjuk rasa membuat tekanan serta menambah kekhawatiran tentang arus keluar modal.

"Kali ini, orang benar-benar khawatir tentang risiko politik, tentang modal asing yang meninggalkan Hong Kong," kata analis yang enggan disebutkan namanya.

Kondisi ini juga dinilai berbeda dengan unjuk rasa yang terjadi pada September 2014 lalu. Kala itu, Hibor dipatok di bawah 1% dan suku bunga The Fed tumbuh kuat.


Namun, menurut Direktur di Ample Finance Hong Kong Alex Wong di tahun ini pasar justru berharap The Fed menurunkan suku bunga. Dengan begitu, pasar lokal.bisa bereaksi terhadap unjuk rasa kali ini.

"Dampaknya sementara. Tapi sekarang kita di kondisi pasar berisiko. Sentimen nggak bagus seperti sebelumnya," jelas dia.

Walaupun begitu, lembaga rating utang Fitch memberikan predikat AA+ terkait keuangan publik ekonomi Hong Kong yang kuat.


Hong Kong Rusuh, Sahamnya Berguguran
(das/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed