Joe Biden Menang Pilpres, Dolar AS Bisa Terjun ke Rp 13.500

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2020 08:23 WIB
Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden speaks, Friday, Nov. 6, 2020, in Wilmington, Del., as Democratic vice presidential candidate Sen. Kamala Harris, D-Calif., listens. (AP Photo/Carolyn Kaster)
Foto: AP/Carolyn Kaster
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah terhadap rupiah sepekan terakhir ini. Bahkan, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tersungkur ke level Rp 14.119 pada perdagangan kemarin.

Pergerakan rupiah didorong oleh sentimen dari pilpres AS 2020. Joe Biden dipastikan menang Pilpres AS.

Melihat kondisi ini, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim memprediksi, dolar AS kemungkinan besar masih akan ditekuk hingga ke level Rp 13.500 pada minggu ke-3 November 2020.

"Rupiah kemungkinan besar di bulan November minggu ke-3 kemungkinan besar dolar AS akan ke Rp 13.500. Kenapa saya bilang akan ke Rp 13.500? Ekspektasi saya di minggu ini Rp 14.500, tetapi kenyataannya di Rp 14.100 kan," ungkap Ibrahim kepada detikcom, Sabtu (7/11/2020).

Sebelum mencapai level itu, dolar AS diprediksi akan secara perlahan melemah ke level Rp 13.800 pada akhir pekan ke-2 bulan ini.

"Ini ditopang oleh permasalahan global yang sudah mereda dan memberikan sentimen positif karena Pilpres AS dimenangkan Joe Biden," jelasnya.

Dihubungi secara terpisah, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee membeberkan, pelemahan dolar AS ini didasari oleh beberapa faktor, mulai dari Biden Effect yang unggul di Pilpres AS, serta sentimen investor yang mulai melirik negara-negara berkembang seperti Indonesia.

"Kalau Biden menang dia stimulus fiskal lebih besar. Tapi karena dia tidak menguasai seluruhnya, maka kemungkinan The Fed harus mengambil peran lebih banyak, mencetak dolar lebih banyak, dan ini membuat dolar melemah," kata Hans.

"Kemudian kalau Biden menang, risiko kan turun di emerging market, jadi dana dari advance country bergerak masuk ke emerging market, tadi dibeli sama emerging market. Kalau dibeli ya rupiahnya menguat, karena dananya masuk ke kita. Jadi akibat stimulus atau quantitative easing yang cukup besar untuk menekan risiko, dolarnya harus dicetak lebih banyak, kedua transmisi dari investasi tadi," sambungnya.

Akan tetapi, ramalannya agak sedikit berbeda. Ia memprediksi, dalam waktu dekat dolar AS masih akan melemah, tapi masih di level Rp 14.000-14.300.

"Rasanya nggak akan di atas Rp 14.300 lagi. Biasanya mereka akan tes Rp 14.000 kalau sudah sampai Rp 14.100," imbuh dia.

Efek Pilpres AS ke Harga Emas

Tak hanya ke dolar AS, Pilpres AS juga akan berdampak pada harga emas melalui sentimen investor.

Harga emas dunia di pasar spot berada di level US$ 1.952 per troy ounce (toz) menurut data RTI. Sementara, harga emas batangan Antam Sabtu (7/11) ialah sebesar Rp 1.004.000 per gram, atau turun Rp 5.000 dari harga kemarin berdasarkan situs resmi Logam Mulia.

Menurut Direktur PT Solid Gold Berjangka (SGB) Dikki Soetopo, harga emas diprediksi akan turun lagi.

"Kami memprediksi bahwa selama pemilu AS berlangsung maka harga emas akan berada di kisaran US$ 1.953/toz sampai dengan US$ 1.964/toz," ungkap Dikki dalam keterangan resmi yang diterima detikcom.

Ia mengatakan, produk investasi berjangka komoditas yang paling tepat dibeli di tengah Pilpres AS ini adalah emas.

"Produk berjangka yang direkomendasikan saat momen pemilu AS saat ini adalah emas dan HKK (Indeks Hang Seng). Selain itu dua produk ini juga akan mengalami tren positif saat perayaan Diwali di India, dan Window Dressing menjelang akhir tahun 2020 serta Imlek di awal tahun 2021," ujarnya.

Sebelumnya, Ibrahim, meyakini harga emas di Indonesia bisa kembali di bawah Rp 900.000/gram.

"Nah dari awal kita tahu bahwa kemungkinan besar Joe Biden memenangkan Pilpres, kemudian bisa menggelontorkan stimulus sebesar US$ 2,2 triliun. Tetapi dengan adanya oposisi yang cukup mayoritas, kemungkinan besar akan berat sekali. Ini yang akan menahan laju penguatan logam mulia di level Rp 1.040.000/gram," imbuh dia.

Ibrahim menuturkan, harga tertinggi emas tak akan tercapai dalam waktu dekat. Apalagi, melihat data historis di mana harga emas tertinggi terakhir di tahun 2011 yakni US$ 1.897,91/toz.

"Level tertinggi harga emas di 2020 hanya di bulan Agustus yakni US$ 2.090/toz atau Rp 1.040.000/gram. Untuk mencapai lagi kita menunggu 5-9 tahun ke depan, sehingga walaupun mengalami kenaikan tidak akan bisa mencapai, pencapaian sukses emas di bulan Agustus," imbuh Ibrahim.

Bahkan, ia meyakini harga emas bisa turun di level US$ 1.700-1.830/toz di tahun 2021-2022. Dengan kata lain, di Indonesia bisa turun hingga Rp 850.000-900.000/gram.

"Kemungkinan besar itu rata-rata nantinya logam mulia itu akan Rp 850.000/gram. Itu yang paling rendah, kemungkinan besar di 2021 itu terjadi. Ya karena ada kemungkinan bahwa logam mulia itu akan di US$ 1.700-an/toz. Itu bukan di tahun 2020, bisa saja di 2021 atau 2022," tandas Ibrahim.



Simak Video "Pagi Ini, Dolar AS 'Perkasa' Tapi Dibungkam Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)