Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah hingga menyentuh level Rp 17.000. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menilai pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sudah masuk dalam perhitungan pemerintah.
"Itu sudah masuk dalam perhitungan kita, kita nggak masalah," ujar Febrio di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).
Febrio menjelaskan pemerintah telah menghitung gejolak kurs dalam pos-pos belanja negara di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, kondisi APBN 2026 masih tetap aman untuk menghadapi dampak pelemahan nilai tukar rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Udah di dalam, jadi kita pasti akan hitung dampaknya terhadap harga-harga yang kita asumsikan dalam belanja itu sudah masuk. Ya udah itu sudah masuk dalam APBN kita. Jadi, kita cukup aman," tambahnya.
Defisit APBN 2026 dipastikan tak lebih dari 2,9% meski harga minyak mentah dunia bergejolak. Angka tersebut masih di level aman dari batas yang ditetapkan sebesar 3%.
Rata-rata harga Indonesian Crude Price (ICP) saat ini mencapai US$ 77 per barel. Meski angka ini sudah berada di atas asumsi dasar APBN, Febrio menyebut masih dalam batas aman yang bisa ditanggung oleh anggaran negara.
"APBN kita siapkan bahkan kalau harga ICP-nya sampai akhir tahun itu US$ 100 rata-rata. Sampai hari ini rata-rata ICP kita itu US$ 77 per barel. Memang sudah di atas APBN-nya, tetapi ini masih jauh dibandingkan dengan kesiapan yang sudah kita sediakan," terang Febrio.
Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (9/4), mata uang Paman Sam naik dan masih bertengger di level Rp 17.000-an. Nilai tukar dolar AS terpantau berada pada level Rp 17.047 atau naik 35 poin (0,21%).
Simak juga Video 'Purbaya Wanti-wanti Ekonomi RI Bisa Melambat Imbas Perang':
(rea/ara)










































