OJK Pantau Ketahanan Sektor Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

OJK Pantau Ketahanan Sektor Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global

Hana Nushratu Uzma - detikFinance
Rabu, 06 Mei 2026 07:57 WIB
OJK Pantau Ketahanan Sektor Jasa Keuangan di Tengah Gejolak Global
Foto: OJK
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan tetap stabil di tengah gejolak kondisi perekonomian global dengan melakukan pemantauan intensif memastikan ketahanan industri jasa keuangan.

"OJK melakukan pemantauan intensif untuk memastikan ketahanan sektor jasa keuangan termasuk melakukan stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan serta memperkuat pengawasan lembaga jasa keuangan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, dalam keterangan tertulis, Rabu (6/5/2026).

Menurut Friderica, OJK juga mendorong agar lembaga jasa keuangan memperkuat penerapan manajemen risiko secara menyeluruh, termasuk melaksanakan stress testing secara berkala, serta memperkuat kualitas asesmen terhadap eksposur risiko pasar dan risiko kredit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengantisipasi dinamika pasar ke depan, OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) senantiasa mencermati perkembangan pasar dan mengambil respons kebijakan yang diperlukan.

Sejumlah instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar saham dinilai tetap relevan dan telah diperpanjang masa berlakunya.

ADVERTISEMENT

Pasar saham domestik pada April 2026 masih bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 6.956,80 per akhir April 2026, terkoreksi 1,30% secara month to month (mtm) atau 19,55% secara year to day (ytd).

Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap manageable.

Rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik pada April tetap di level rendah sebesar 1,33 kali, menunjukkan likuiditas pasar yang terjaga. Investor asing pada periode laporan membukukan net sell di saham sebesar Rp 17,02 triliun.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir April 2026 ditutup pada level 436,38 atau naik 0,74% mtm.

Perkembangan tersebut didukung penurunan yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata sebesar 3,90 basis poin (bps) mtm, yang mencerminkan resiliensi pasar obligasi domestik.

Investor non-residen mencatat net buy di pasar SBN sebesar Rp 8,80 triliun secara mtd (per 29 April 2026).

Pasar modal domestik terus menjalankan peran pentingnya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi korporasi.

Hingga April 2026 (ytd), nilai fundraising oleh korporasi di pasar modal telah mencapai Rp 56,35 triliun, dan 71 rencana Penawaran Umum dalam pipeline.

Untuk penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF), total nilai dana dihimpun telah mencapai Rp 1,93 triliun.

Kemudian di pasar derivatif keuangan, volume transaksi secara akumulatif mencapai 143.217 lot.

Perbankan

Kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49% yoy menjadi Rp 8.659 triliun, meningkat dibandingkan posisi Februari 2026 yang tumbuh 9,37% yoy.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,85%. Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 14,88% yoy, sementara itu kredit UMKM telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12% yoy (Februari: terkontraksi sebesar 0,56% yoy).

Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi yaitu sebesar 13,66% yoy.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55% yoy (Februari 2026: 13,18% yoy) menjadi Rp 10.231 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37% yoy, 11,57% yoy, dan 8,36% yoy.

Likuiditas industri perbankan pada Maret 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 122,55% (Februari 2026: 121,29%) dan 27,85% (Februari 2026: 27,4%) dan masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 193,64%, sedangkan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 128,84%.

Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,14% (Februari 2026: 2,17%) dan NPL net terjaga di 0,83% (Februari 2026: 0,83%).

Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,94% (Februari 2026: 9,24%). Secara umum, tingkat profitabilitas bank (ROA) sebesar 2,47% (Februari 2026: 2,37%).

Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (CAR) tercatat sebesar 25,09% (Februari 2026: 25,83%), menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai.

Perasuransian dan Dana Pensiun

Kinerja Industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum tetap stabil dan terjaga, ditopang oleh tingkat solvabilitas agregat yang tinggi.

Sejalan dengan kondisi tersebut, OJK terus mendorong optimalisasi peran serta peningkatan kinerja industri PPDP, dengan tetap memperkuat ketahanan dalam menghadapi dinamika perekonomian.

Untuk industri asuransi, aset industri asuransi pada Maret 2026 mencapai Rp 1.195,75 triliun atau naik 4,38% yoy.

Dari sisi asuransi komersil, total aset mencapai Rp 977,53 triliun atau naik 5,64% yoy.

Adapun kinerja asuransi komersil berupa akumulasi pendapatan premi pada periode Maret 2026 mencapai Rp 88,36 triliun, atau tumbuh 0,74% yoy, terdiri dari premi asuransi jiwa yang turun 0,14% yoy dengan nilai sebesar Rp 47,12 triliun, dan premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh sebesar 1,77% yoy dengan nilai sebesar Rp 41,24 triliun.

Permodalan industri asuransi jiwa serta asuransi umum dan reasuransi secara agregat mencatatkan Risk Based Capital (RBC) masing-masing sebesar 474,26% dan 316,32% (di atas threshold sebesar 120%).

Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun per Maret 2026 tumbuh sebesar 10,49% yoy dengan nilai mencapai Rp 1.684,89 triliun.

Untuk program pensiun sukarela, total aset mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,71% yoy dengan nilai mencapai Rp 408,82 triliun.

Di sektor perusahaan modal ventura, lembaga keuangan mikro, dan lembaga jasa keuangan lainnya (PVML), piutang pembiayaan Perusahaan Pembiayaan (PP) tumbuh sebesar 0,61% yoy pada Maret 2026 menjadi Rp 514,09 triliun, didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 6,15% yoy.

Profil risiko Perusahaan Pembiayaan terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,83% dan NPF net sebesar 0,8%.

Gearing ratio PP tercatat sebesar 2,17 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada Maret 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,95% yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp 16,57 triliun.

Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada Maret 2026 tumbuh 26,25% yoy, dengan nominal sebesar Rp 101,03 triliun.

Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga di posisi 4,52%.

Terkait dengan perkembangan aktivitas aset kripto di Indonesia, per Maret 2026, jumlah konsumen mencapai 21,37 juta konsumen (tumbuh 1,43% mtd).

Sementara itu, pada Maret 2026 nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp 22,24triliun dan nilai transaksi derivatif aset keuangan digital (AKD) tercatat sebesar Rp 5,80 triliun.

Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik.




(hnu/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads