UNTR Siapkan Buyback Rp 2 Triliun, NCKL Kebut Proyek Smelter, dan ERAA Bagikan Dividen Tunai

UNTR Siapkan Buyback Rp 2 Triliun, NCKL Kebut Proyek Smelter, dan ERAA Bagikan Dividen Tunai

- detikFinance
Kamis, 02 Jul 2026 08:40 WIB
img-alt

Mega Capital Sekuritas

PT Mega Capital Sekuritas, bagian dari CT Corpora, hadir sejak 1991 dengan layanan investasi inovatif dan tenaga ahli terpercaya.
UNTR Siapkan Buyback Rp 2 Triliun, NCKL Kebut Proyek Smelter, dan ERAA Bagikan Dividen Tunai
Ilustrasi grafik saham dalam latar belakang hitam pada layar laptop
Jakarta -

Market Overview

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Rabu (1/7) di zona positif setelah naik 0,92% ke level 5.695,12. Penguatan indeks ditopang oleh kenaikan saham BREN, TLKM, dan BRPT, sedangkan pelemahan BBRI, BMRI, dan CPIN membatasi laju kenaikan.

Meski IHSG menguat, investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) senilai Rp548,44 miliar di pasar reguler dan Rp577,79 miliar di seluruh pasar. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, tujuh sektor berakhir di zona hijau. Sektor energi menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan penguatan 2,61%, sementara sektor transportasi mencatat koreksi paling dalam sebesar 0,91%.

Di pasar global, bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah. Indeks Dow Jones turun tipis 0,03%, diikuti S&P 500 yang terkoreksi 0,22% dan Nasdaq yang melemah 0,66%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen, mulai dari defisit neraca perdagangan, aktivitas manufaktur yang masih berada di fase kontraksi, hingga bertambahnya 16 emiten yang dikenai suspensi karena belum menyampaikan laporan keuangan auditan tahun buku 2025 dan/atau belum menyelesaikan kewajiban pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan. Di sisi lain, ETF EIDO turun 0,27%, sedangkan MSCI Indonesia masih mencatat kenaikan tipis 0,13%.

Berita Emiten

  1. PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL)

NCKL melanjutkan pengembangan fasilitas pengolahan nikel di Kawasan Industri Pulau Obi, Maluku Utara. Perseroan saat ini mempercepat pembangunan tiga proyek utama yang meliputi smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) ketiga, pabrik pengolahan batu kapur menjadi quicklime, serta fasilitas pengolahan kembali sisa hasil produksi (tailing recycling).

ADVERTISEMENT

Smelter RKEF ketiga yang dibangun melalui anak usaha PT Karunia Permai Sentosa (KPS) memiliki 12 lini produksi dengan kapasitas terpasang mencapai 185.000 ton feronikel (FeNi) per tahun.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara penuh pada akhir tahun ini. Dengan tambahan kapasitas tersebut, total kapasitas produksi feronikel Harita Nickel di Pulau Obi diproyeksikan meningkat menjadi 305.000 ton nikel per tahun pada akhir 2026.

Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari pengembangan hilirisasi nikel perseroan sekaligus memperkuat kapasitas pengolahan di kawasan industri yang menjadi pusat operasional Harita Nickel.

  1. PT United Tractors Tbk. (UNTR)

UNTR kembali mengalokasikan dana hingga Rp2 triliun untuk pelaksanaan pembelian kembali saham (buyback) yang akan berlangsung pada periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Seluruh pendanaan berasal dari kas internal perusahaan.

Sebelumnya, UNTR telah menjalankan buyback pada periode 1 April-30 Juni 2026 dengan nilai maksimal yang sama. Namun, realisasi pembelian baru mencapai Rp860,35 miliar atau setara 35,53 juta saham. Dengan demikian, masih terdapat sisa anggaran sekitar Rp1,14 triliun yang tidak digunakan pada periode tersebut.

Hingga akhir kuartal I-2026, kas perseroan tercatat sebesar Rp20,56 triliun. Setelah memperhitungkan dana yang telah digunakan untuk buyback sebelumnya, posisi kas diperkirakan berada di kisaran Rp19,70 triliun.

Jika seluruh anggaran buyback periode terbaru direalisasikan, total aset diperkirakan menjadi sekitar Rp180,50 triliun dan ekuitas sekitar Rp99,20 triliun. Perseroan juga memperkirakan laba per saham (earnings per share/EPS) secara proforma meningkat menjadi Rp185.

  1. PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA)

ERAA menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp25 per saham untuk tahun buku 2025, dengan total nilai mencapai sekitar Rp389,62 miliar. Jumlah tersebut setara dengan 32,58% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Keputusan tersebut didukung oleh pertumbuhan kinerja sepanjang 2025. Perseroan membukukan penjualan neto sebesar Rp76,61 triliun atau meningkat 17,35% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih juga bertambah 15,83% menjadi Rp1,20 triliun.

Berdasarkan harga penutupan saham ERAA pada 1 Juli di level Rp318 per saham, nilai dividen tersebut mencerminkan dividend yield sekitar 7,86%. Jadwal cum dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 7 Juli 2026, sedangkan pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan pada 31 Juli 2026.

Rekomendasi Saham Hari Ini

  • NCKL - Buy 805-810 | TP 825-835 | SL 765

  • MBMA - Buy 496-505 | TP 515-525 | SL 475

  • ISAT - Buy 1775-1785 | TP 1805-1820 | SL 1695

  • ERAA - Buy 362-364 | TP 370-374 | SL 346

  • JPFA - Buy 1990-2010 | TP 2030-2090 | SL 1915

Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.



(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads