Follow detikFinance
Senin 04 Dec 2017, 16:30 WIB

Mimpi Yusuf Mansur Jadikan PayTren Perusahaan Investasi Dunia

Danang Sugianto - detikFinance
Mimpi Yusuf Mansur Jadikan PayTren Perusahaan Investasi Dunia Foto: Tripa Ramadhan
Jakarta - Ustad Yusuf Mansur kini fokus mengembangkan bisnisnya di dunia keuangan. Bahkan saking yakinnya dengan bisnisnya itu, Yusuf bermimpi bisa memiliki perusahaan investasi berskala internasional.

Mengawali mimpinya itu, Yusuf tengah mencari perusahaan-perusahaan di luar negeri yang hendak diajak kerja sama. Ada satu perusahaan teknologi asing yang tengah didekatinya, namun dia masih enggan mengungkapkannya.

"Kita berangkat ke beberapa negara untuk membeli perusahaan-perusahaan yang ada di sana. So far sih baru satu, ini perusahaan teknologi. Nanti akan kita umumkan pada waktunya," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (4/12/2017).

Menurutnya, mimpinya itu bukanlah khayalan belaka. Membeli perusahaan asing bisa dilakukan dengan melakukan penghimpunan dana di Indonesia.

"Ya dengan orang-orang Indonesia ada di kanan, kiri, depan, belakang, saya PD. Karena enggak ada yang mahal kok, Rp 1 triliun itu murah kok bila bilangan pembaginya Rp 10 juta," imbuhnya.

Saat ini pihaknya sudah memiliki PT PayTren Aset Manajemen (PAM), sebuah perusahaan manajer investasi. Sebelumnya juga dia telah mendirikan bisnis network yang bernama Veretra Sentosa Internasional. Nanti Yusuf akan membuat perusahaan investasi untuk membeli perusahaan-perusahaan yang menjadi mimpinya itu.


"Ya nanti kita akan bentuk perusahaan investasi. Pokoknya tujuan kita mensejajarkan diri dengan perusahaan investasi besar," tambahnya.

Dia memandang, apa yang menjadi mimpinya itu bukan membuat dirinya menjadi seorang yang kapitalis murni. Dia lebih senang menyebut dirinya sebagai seorang kapital sosialis religius.

Yusuf bahkan mendambakan Indonesia bisa seperti raja-raja di negara arab yang banyak melakukan investasi di stadion maupun klub sepakbola ternama di Eropa.

"Dulu saya mikir, ini pangeran Arab apa kebanyakan duit beli-beli klub sepakbola, beli event organizer-nya F1, beli stadion, ternyata itu cerdas. Akhirnya Qatar yang tidak punya sejarah persepakbolaan kok bisa jadi tuan rumah piala dunia. Kalau kita bikin di Indonesia mantap," tandasnya.

(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed