Follow detikFinance
Minggu, 30 Des 2012 16:23 WIB

Ibnu Sutowo: Untuk Menjatuhkan Saya Paling Gampang dengan Tuduhan Korupsi

- detikFinance
Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengenang sosok sang Direktur Utama pertama Pertamina Ibnu Sutowo dalam buku "Ibnu Sutowo, Saatnya Saya Bercerita!" Namun sosok 'legendaris' di bidang perminyakan ini tak terlepas dari stigma korupsi.

Dalam bukunya Ibnu bercerita, saat itu Pertamina dan ia sedang berada di puncak. Ia menuturkan menjatuhkan dirinya paling gampang adalah dengan tudingan melakukan korupsi, sehingga akhirnya ia lengser dari kursi Dirut Pertamina digantikan oleh Piet Haryono pada 1976.

Baginya pelengserannya tersebut cukup menyesakkan dada, bagi Ibnu cara pelengserannya tidak elok. "Pada waktu itu saya cuti sakit, dikabarkan Menteri Pertambangan Moh. Sadli, Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh, Menteri Ekuin Widjojo Nitisastro dan Menteri Keuangan Ali Wardhana bicara di depan para anggota DPR mengenai krisis Pertamina," tulis Ibnu dalam Bukunya yang dikutip detikFinance, Minggu (30/12/2012).

Menurut Ibnu, Widjojo Cs waktu itu bicara juga tentang kapal tanker yang dimiliki Pertamina. "Mereka mengemukakan, akibat resesi ekonomi dunia dan penghematan minyak, operasi tanker itu menyebabkan Pertamina rugi besar. Sejak 1975, kata mereka, banyak tanker Pertamina menganggur karena kekurangan muatan," tulis Ibnu dibukunya.

"Toh dalam kesempatan itu mereka tidak bisa mengajukan angka seragam mengenai utang Pertamina yang sebenarnya," tulisnya lagi.

Pada 5 Maret 1976 Ibnu dilengserkan oleh Presiden Soeharto dan diigantikan oleh Piet Haryono, kejadian ini dianggap ganjil karena Ibnu diberitahu satu hari sebelumnya.

"Hari itu seorang utusan khusus Presiden datang memberitahukan kepada saya. Kabarnya, para anggota Dewan Komisaris diberitahu tentang timbang terima saya dengan Piet Haryono itu tanggal 3 Februari 1976, jadi sebulan sebelum saya diberitahu," tulisnya.

Para Komisaris tersebut kata Ibnu adalah Menteri Pertambangan, Menteri Keuangan, Menteri Ekuin, Menteri Perindustrian dan Menteri Pertahanan dan Keamanan. "Rupanya berbulan-bulan orang sempat membicarakan soal pergantian saya," ucapnya.

Pergantian itu tersebut mengecewakan baginya, bukan karena dirinya mau jadi Dirut Pertamina seumur hidup. "Tapi karena dilangsungkan dengan cara sederhana dan tertutup bagi pers, bahkan lebih dari pada sederhana. Padahal saat itu kata Ibnu, Pertamina dipimpinnya mulai dari nol hingga besar.

"Mulai produksi 350.000 barel per hari dengan harga rata-rata di bawah US$ 2 per barel, waktu saya berhenti, produksi Pertamina 1,7 juta barel/hari dengan harga US$ 34 per barel, incomee dari minyak mencapai US$ 2 miliar," ucapnya.

"Waktu saya sedang berada diposisi puncak. Dan yang paling gampang untuk menjatuhkan saya, dengan tuduhan korupsi," tulisnya.



(rrd/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed