Follow detikFinance
Sabtu 29 Oct 2016, 14:40 WIB

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik Menyala

Michael Agustinus - detikFinance
Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik Menyala Foto: Michael Agustinus
Deiyai - Sudah 71 tahun Indonesia merdeka, tapi masih ada sekitar 12.000 desa yang belum mendapatkan fasilitas listrik dengan baik. Dari 12.000 desa itu, sekitar 3.500 di antaranya ada di Papua.

detikFinance berkesempatan untuk melihat langsung suasana Kabupaten Deiyai, yang terletak di kawasan pegunungan Papua, pada malam hari. Sangat berbeda dengan di Pulau Jawa atau wilayah-wilayah Indonesia lainnya yang sudah mendapatkan listrik sejak lama, hanya segelintir rumah saja yang bercahaya di malam hari karena memiliki genset.

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik MenyalaFoto: Dok. PLN

Tak ada penerangan di jalan-jalan, benar-benar gelap. detikFinance yang berjalan-jalan pada malam hari di sana sempat beberapa kali tersandung dan menginjak lubang.

Tapi penduduk setempat sudah sangat terbiasa dengan kegelapan itu. Anak-anak kecil berlari-larian tanpa alas kaki di jalan tanpa cahaya itu, tak terjatuh atau tersandung-sandung. Sedangkan orang-orang dewasa berkumpul dan bercengkrama sejak sore hingga tengah malam.

Di rumah-rumah yang memiliki genset, penghuninya berkumpul bersama menonton televisi, anak-anaknya bisa belajar.

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik MenyalaFoto: Michael Agustinus

Listrik memang barang mewah di sini. Genset harganya sudah jutaan rupiah, lalu untuk mengoperasikannya butuh biaya besar. Untuk menyalakan listrik selama 5 jam saja dibutuhkan 5 liter solar yang harganya Rp 10.000/liter. Maka pemilik genset harus punya uang Rp 1,5 juta/bulan untuk listrik 5 jam/hari.

Tapi mulai 27 Oktober 2016 lalu, suasana akan mulai berubah. Sebab, PLN sudah masuk dan melistriki Deiyai selama 24 jam per hari. PLN mengoperasikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik Pemkab Deiyai yang berkapasitas 2 x 500 kVa atau 1 Megawatt (MW) guna menerangi Deiyai.

Dengan begitu, tanpa memiliki genset pun penduduk bisa mendapatkan listrik. Kalau memakai genset butuh Rp 1,5 juta/bulan untuk listrik 5 jam/hari, listrik dari PLN yang 24 jam hanya belasan ribu per bulan saja, dengan catatan digunakan buat lampu penerangan dan kebutuhan pokok lain di rumah.

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik MenyalaFoto: Michael Agustinus

Ketika PLN meresmikan beroperasinya PLTD di Kabupaten Deiyai, warga setempat begitu gembira. Lapangan di kampung yang biasanya gelap menjadi terang benderang dengan lampu-lampu.

Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN, Haryanto WS, berharap mengalirnya listrik PLN ini membawa banyak manfaat bagi kehidupan warga Kabupaten Deiyai. Sebab, listrik adalah salah satu kunci untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Misalnya untuk penerangan anak-anak belajar di malam hari, memajukan perekonomian penduduk, dan memperluas akses informasi untuk masyarakat.

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik MenyalaFoto: Istimewa/PLN

"Saya mohon maaf pada masyarakat Deiyai bahwa baru pada kesempatan ini PLN masuk ke Kabupaten Deiyai. Saya berharap dengan masuknya listrik ke Deiyai ini anak-anak bisa belajar lebih tekun, lebih lama, bisa menyerap lebih banyak pelajaran. Masyarakat bisa lebih produktif, listrik bisa dipakai untuk menjahit, bisa buka usaha fotokopi, toko-toko bisa buka lebih malam sehingga ekonomi tumbuh lebih cepat, informasi bisa diterima lebih baik," tutupnya.

Mengintip Suasana Pedalaman Papua Setelah Listrik MenyalaFoto: Michael Agustinus
(ang/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed