Pertamina Berpotensi Rugi Rp 11,2 Triliun Hingga Akhir 2011

- detikFinance
Senin, 22 Agu 2011 08:12 WIB
Jakarta - PT Pertamina (Persero) diprediksi menderita kerugian hingga Rp 11,2 triliun sampai akhir tahun 2011 ini. Hal tersebut disebabkan karena tidak bertambahnya marjin penjualan BBM bersubsidi, termasuk juga penjualan Elpiji Non-Subsidi yang harganya justru di bawah harga keekonomian.

"Kalau dihitung-hitung kita sudah ada Rp 11,2 triliun potensial loss (kerugian) yang akan diderita di tahun ini," ungkap VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun, Jakarta, Senin (22/8/2011).

Harun menjelaskan, angka sebesar Rp 11,2 triliun tersebut terbagi atas kerugian terhadap penjualan BBM Subsidi senilai Rp 2,5 triliun. Termasuk juga prediksi terhadap kerugian penjualan Elpiji non-subsidi sebesar Rp 3,7 triliun.

"Kita kan tahu permintaan untuk menambah margin terhadap BBM bersubsidi ditolak, akibatnya kita merugi. Belum lagi untuk harga Elpiji non-subsidi yang harganya tidak boleh dinaikkan," jelasnya.

Kemudian, adanya biaya untuk mencadangkan BBM milik Pertamina juga akan menambah kerugian hingga Rp 5 triliun. Maka itu total kerugian bisa mencapai Rp 11,2 triliun.

"Jadi kita ada biaya untuk mencadangkan BBM, kan masih ada 22 hari stok BBM kita dan ada 2 minggu stok kita untuk minyak mentah. Untuk menjaga itu, dananya pakai dana Pertamina. Itu jadi uang mati di sana, dalam setahun bisa Rp 5 triliun," jekasnya.

Menurutnya, jika pihak Pertamina dapat menaikkan harga Elpiji non-subsidi, atau dapat insentif berupa kenaikan margin terhadap penjualan BBM Subsidi, maka pihaknya dapat menekan kerugian.

"Jadi kalau bisa seperti itu, potensial loss bisa diamankan (memperkecil kerugian). Jadi kita bisa naikkan dividen ke pemerintah. Kita ingatkan itu ke ESDM dan pemegang saham yang penting mereka tahu," ujar Harun.

Terkait keuangan Pertamina, Harun menjelaskan BUMN Migas tersebut mengalami kenaikan laba secara signifikan di semester 1. Namun, menurutnya akan ada tantangan yang harus dihadapi supaya dapat meningkatkan laba perusaahaan.

"Kita di semester dua mungkin ada challenge besar. Karena ada perbedaan harga minyak mentah dan perubahan kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Itu adalah faktor eksternal," ungkapnya.

Apalagi, lanjutnya, jika konsumsi terhadap BBM berusbidi semakin meningkat, maka laba Pertamina akan tergerus. Mengingat margin terhadap BBM Subsidi masih dirasa kurang bagi Pertamina.

"Kita harus berhati-hati di semester dua ini. Situasinya berbeda dengan semester pertama," tanggapnya.

(nrs/qom)