Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 17 Jun 2015 12:32 WIB

Konsumsi BBM RI 75 Miliar Liter/Tahun, 55% Diimpor Pakai Dolar

Rista Rama Dhany - detikFinance
Jakarta - PT Pertamina (Persero) membutuhkan dolar Amerika Serikat (AS) dalam jumlah yang cukup besar, untuk impor bahan bakar minyak (BBM) guna mengamankan pasokan BBM pada puasa dan lebaran. BUMN ini perlu US$ 500 juta atau sekitar Rp 6,5 triliun. Bisakah pembayaran impor BBM memakai mata uang rupiah saja?

Menurut Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Someng, hal tersebut mungkin dilakukan. Salah satunya dengan membawa pemain minyak berjualan di Indonesia, seperti yang dilakukan Singapura.

"Kita punya konsep agar market dibawa ke dalam negeri. Biar para pedagang minyak masuk ke Indonesia, mereka bawa minyaknya untuk jualan di Indonesia," kata Andy kepada detikFinance, Rabu (17/6/2015).

Andy mengatakan, pembeli BBM dan minyak mentah di Indonesia bukan hanya PT Pertamina (Persero) saja, banyak perusahaan lain yang menjual BBM terutama untuk kebutuhan industri, listrik dan lainnya, sebut saja Shell, Total, Medco, dan banyak lagi.

"Konsumsi BBM total dalam setahun ini sekitar 75 juta kilo liter, di mana 55%-nya dipasok dari impor, ini nilainya besar sekali," katanya.

Ia menegaskan, membuka market pasar minyak di Indonesia bisa dilakukan, sama halnya seperti di Singapura, yang menjadi salah satu patokan harga minyak dan BBM di banyak negara.

"Memang untuk menuju ke sana tidak mudah, tapi bisa, karena kita itu pengimpor BBM sangat besar di dunia, market harusnya kita yang tentukan. Kita yang kurang hanya infrastruktur, kilang kita tua tapi di Singapura modern semua, storage BBM mereka jauh lebih besar dari pada kita. Kalau mau bisa bawa market itu ke Indonesia ya perbaiki infrastrutkur BBM kita," jelas Andy.

Andy mencontohkan, seperti pabrik ponsel yang dulu masyarakat Indonesia mau beli ponsel jenis terbaru harus pergi ke Singapura, harganya juga lebih mahal dan belinya pakai dolar. Sekarang, banyak pabrik ponsel buka di Indonesia, banyarnya pakai rupiah dan lebih murah.

"Seperti pasar ponsel saja, dulu belum dibuka di Indonesia, harga ponsel kan mahal atau belinya di Singapura, kita beli dolar untuk beli ponselnya. Kalau sekarang kan beli ponsel pakai rupiah saja. Hal seperti ini yang kita dorong investor mau investasi kilang, storage di Indonesia," tutupnya.

Seperti diketahui, untuk impor BBM sehari-hari, Pertamina membutuhkan dolar sebanyak US$ 150 juta per hari, bahkan untuk mengamankan pasokan BBM masyarakat pada puasa dan lebaran, Pertamina membutuhkan US$ 500 juta, dengan menambah volume impor premium menjadi total 10 juta kilo liter per bulan.

(rrd/dnl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed