Follow detikFinance
Selasa, 12 Jul 2016 13:28 WIB

Pertamina Siap Investasi di Blok Mahakam Sebelum Kontrak Total Habis

Michael Agustinus - detikFinance
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Kontrak Total E&P Indonesie di Blok Mahakam baru akan habis pada 31 Desember 2017, dan setelah itu akan diambil alih PT Pertamina (Persero). Tetapi Kementerian ESDM mendorong Pertamina mulai berinvestasi di blok penghasil gas bumi terbesar Indonesia itu pada tahun ini.

Tujuannya, untuk menjaga tingkat produksi minyak dan gas (migas) di Blok Mahakam. Bila Total yang berinvestasi untuk kegiatan eksplorasi, tentu raksasa migas asal Prancis tersebut dirugikan, karena hasil pengeboran baru bisa dinikmati pasca 2017 setelah mereka angkat kaki.

Kalau tak ada pengeboran baru, produksi migas Blok Mahakam pasti akan anjlok, decline rate (rasio penurunan produksi) tak bisa ditahan. Dengan pertimbangan tersebut, maka Kementerian ESDM ingin Pertamina saja yang berinvestasi, toh hasilnya nanti akan dinikmati oleh Pertamina juga setelah 2017.

Pengeboran sumur-sumur baru tetap akan dilakukan Total hingga akhir 2017 agar tak melanggar kontrak, Pertamina hanya menyediakan dana investasi.

Pertamina menyatakan siap menggelontorkan dana investasi dari sekarang, supaya produksi migas Blok Mahakam tidak drop begitu diambil alih mereka pada 2018.

"Kami inginnya begitu, kami ingin investasi tidak terganggu sehingga kegiatan operasional berkaitan dengan produksi tidak drop. Yang sedang kami bicarakan dengan Total adalah oke duitnya dari kami, kami siap. Karena blok itu kontraknya masih punya Total, ya silakan Total yang eksekusi," kata Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam, saat ditemui di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (12/7/2016).

Namun untuk melaksanakan hal tersebut, perlu aturan khusus dari SKK Migas. Pelaporan keuangan dalam akuntansi akan berbeda dari biasanya, karena Pertamina yang berinvestasi tapi Total yang melaksanakan di lapangan. Tentu pertanggungjawabannya akan lebih rumit.

"Hanya mungkin masalah accounting yang perlu kami bicarakan dengan SKK Migas. PTK-nya SKK Migas mungkin harus diubah, karena uangnya milik Pertamina tapi Total yang eksekusi, accounting-nya bagaimana. Kita nggak ada masalah," paparnya.

Dana investasi yang dibutuhkan Pertamina untuk menjaga produksi di Mahakam sekitar US$ 2 miliar per tahun. Alam mengaku, pihaknya sudah menyiapkan uang sebesar itu. "Biaya investasinya sekitar US$ 1-2 miliar. Tidak ada masalah, kami siap duit. Dananya ada, kami sudah antisipasi," tuturnya.

Ide Kementerian ESDM ini sudah disampaikan pada pihak Total. Sampai saat ini, tidak ada keberatan dari Total. Tapi Total ingin ada aturan hukum yang jelas supaya tidak terjadi masalah di kemudian hari. "Sudah dibicarakan dengan Total, tapi mereka masih belum tahu aturan hukumnya seperti apa," tutupnya. (wdl/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed