Follow detikFinance
Kamis 05 Jan 2017, 13:24 WIB

Arividya Noviyanto Jadi President and GM Total E&P Indonesie

Michael Agustinus - detikFinance
Arividya Noviyanto Jadi President and GM Total E&P Indonesie Foto: Dok. Total E&P
Jakarta - Total Exploration & Production (E&P) Indonesie menunjuk Arividya Noviyanto sebagai President & General Manager dan Group Representative untuk Indonesia. Arividya menggantikan Hardy Pramono (2014 – 2016), yang akan memasuki masa persiapan pensiun.

Arividya Noviyanto, yang efektif memegang posisi baru ini sejak 1 Januari 2017, sebelumnya menjabat sebagai Vice President of Finance, Human Resources, General Services, and Communication. Dia merupakan orang Indonesia kedua yang menduduki jabatan tertinggi di Total E&P, salah satu afiliasi terbesar di Total SA.

"Prioritas utama kami pada tahun ini adalah menahan penurunan produksi di Blok Mahakam, dan di saat yang penting ini memastikan bahwa proses transfer operator Blok Mahakam ke Pertamina dapat berlangsung mulus," kata Arividya dalam keterangan tertulis kepada media, Kamis (5/1/2017).

Sebagaimana diketahui, Total E&P (operator dengan 50% participating interest, 50% INPEX Ltd) akan mengakhiri kontraknya setelah hampir 50 tahun beroperasi di Mahakam PSC pada 31 Desember 2017. PT Pertamina Hulu Mahakam telah ditunjuk pemerintah Indonesia sebagai operator baru per 1 Januari 2018.

Tahun ini akan menjadi krusial untuk proses transisi ini, dan untuk tujuan tersebut Total E&P telah membentuk sebuah unit khusus pada Desember 2015 bernama Transition Mahakam Operatorship (TMO).

Meski mengoperasikan banyak lapangan tua di Blok Mahakam, Total E&P dengan dukungan SKKMigas, telah berhasil menjaga produksi tetap baik. Produksi gas (inlet) pada 2016 mencapai rata-rata 1,64 BCFD dan 64.000 BOD likuid (minyak dan kondensat).

Untuk tahun ini, Total E&P memproyeksikan produksi di Blok Mahakam mencapai 1,43 BCFD untuk gas, dan 53.000 BOD untuk likuid, sebagaimana dinyatakan dalam Rencana Kerja dan Anggaran 2017 (WP&B 2017).

"Kami memproduksi minyak dan gas di blok yang sudah mature, sehingga penurunan produksi secara alamiah adalah tantangan yang harus kami kelola," kata Arividya.

Dia menambahkan bahwa tahun ini investasi Total E&P akan lebih rendah dibandingkan 2016, sehubungan dengan situasi harga minyak dunia dan kontrak PSC yang menjelang berakhir.

Alumni Institut Pertanian Bogor (masuk tahun 1983 di jurusan Teknik Industri) dan Magister Management Universitas Indonesia (lulus 1995) ini bergabung di Total E&P pada tahun 1994 sebagai Senior Cost Controller. Dari tahun ke tahun karirnya terus menanjak hingga ia dipercaya menjabat sebagai Finance Advisor for Northern Europe Zone (2002), di kantor pusat Total E&P, di Paris.

Kemudian menjadi Finance Controller pada Total E&P Nederland (2005), di Den Haag. Pada 2007, Arividya dipromosikan menjadi VP Finance di Total E&P, kemudian merangkap jabatan lagi sebagai VP Human Resources & General Services (2010), dan sebagai VP Communication (2012), sebelum akhirnya menjadi orang nomor satu di Total E&P pada 2017. (mca/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed