Follow detikFinance
Jumat 17 Mar 2017, 16:00 WIB

Cerita Arcandra Soal Perdebatan Cost Recovery dan Gross Split

Muhammad Idris - detikFinance
Cerita Arcandra Soal Perdebatan Cost Recovery dan Gross Split Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar, hari ini menyempatkan waktunya memberi kuliah umum di depan ratusan mahasiswa Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Kuliah umum tersebut bertemakan 'Masa Depan Hulu Migas dan Kontrak Migas Gross Split untuk Energi Berkeadilan' itu, Arcandra bicara panjang lebar terkait skema bagi hasil migas yang baru gross split.

Di depan mahasiswa yang didominasi dari Jurusan Perminyakan ini, Arcandra menganalogikan bagi hasil cost recovery dan gross split seperti hanya menjual sebotol air mineral. Menurutnya, skema cost recovery memicu banyak perdebatan biaya antara kontraktor migas dan pemerintah dalam hal ini SKK Migas.

Perdebatan tersebut terjadi karena sulitnya menetapkan harga yang disetujui untuk kemudian diganti SKK Migas. Lamanya perdebatan inilah yang membuat produksi minyak molor sejak cadangan ditemukan.

"Saya tanya berapa harga sebotol air mineral, kalau saya tanya ke pedagang kaki lima harganya Rp 5.000, kalau saya tanya ke restoran harganya Rp 10.000, tapi begitu saya tanya ke hotel bintang lima harganya Rp 50.000," kata Arcandra di depan ratusan mahasiswa yang menyimaknya dengan serius.

Menurut dia, hotel berbintang yang mematok harga Rp 50.000 itu juga tak bisa disalahkan. Hal inilah yang kemudian memicu perdebatan yang tak kunjung selesai.

"Saya dapat di pinggir jalan Rp 5.000, tapi di hotel Rp 50.000. Hotel tak salah, karena ada biaya untuk kenyamanan, debat harga ini yang paling susah. Bikin banyak debat," ujar mantan kontraktor migas lepas pantai ini.

Perdebatan ini, kata Arcandra, akan semakin meruncing saat SKK Migas dan kontraktor menyepakati harga teknologi yang dipakai. Hal ini lantaran teknologi yang dipakai masing-masing kontraktor berbeda.

"Ini baru sebatas air mineral, bagaimana kalau memasukkan unsur teknologi. Siapa saya harus tanya, jawabanya tergantung siapa yang punya teknologi. Kalau itu teknologinya BP, saya tanya ke Chevron jawabannya enggak tahu. Debat jadinya, lama," pungkas Arcandra. (idr/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed