Follow detikFinance
Rabu 12 Apr 2017, 09:34 WIB

Freeport: Kami Sudah Investasi Rp 82 T untuk Tambang Bawah Tanah

Michael Agustinus - detikFinance
Freeport: Kami Sudah Investasi Rp 82 T untuk Tambang Bawah Tanah Foto: Michael Agustinus
Jakarta - PT Freeport Indonesia mengaku telah mengeluarkan uang sebesar US$ 6,2 miliar atau setara dengan Rp 82,4 triliun untuk pengembangan tambang bawah tanah Grasberg di Papua sejak 2004.

"Untuk investasi penambangan bawah tanah, kita sudah mengeluarkan US$ 6,2 miliar sejak 2004-2016," kata VP Underground Mine Operations PT Freeport Indonesia, Hengky Rumbino, kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (14/4/2017).

Jika mendapat kepastian perpanjangan hingga 2041, Freeport berencana akan menginvestasikan lagi dana sebesar US$ 13,6 miliar atau Rp 180,8 triliun. Sebagian besar akan digunakan untuk pengembangan tambang bawah tanah.

"Kita rencanakan juga dari 2017-2041 kalau semua lancar, kita investasikan US$ 13,6 miliar untuk ekspansi underground. Ada juga untuk membuat mill kita, penambahan power untuk operasi. Mayoritas spending untuk tambang bawah tanah," tukasnya.

Investasi ratusan triliun rupiah untuk pengembangan tambang bawah tanah ini butuh persiapan sejak jauh-jauh hari. Sebab, pembangunan akses terowongan hingga dimulainya produksi bijih memakan waktu lebih dari 10 tahun.

Sebagai gambaran, Freeport butuh waktu 6 tahun sejak 2004 sampai 2010 untuk membangun terowongan sampai ke badan bijih. Lalu dibangun juga ventilasi dan infrastruktur lainnya.

"Tergantung letak badan bijihnya. Untuk kasus Freeport, kita menambah di sekitar 1,6 km di bawah tanah. Untuk mencapai badan bijih kita butuh membangun akses terowongan dari 2004, kita bikin dulu akses utama, jalan masuk, dan juga ventilasi. Baru 2010 kita mencapai badan bijih," ucapnya.

Produksi baru bisa dimulai 5 tahun kemudian. Puncak produksi baru dicapai kira-kira 5 tahun setelah awal produksi. Jadi sejak pembangunan akses terowongan sampai menuju puncak produksi perlu 17 tahun.

"Kita lakukan pengembangan di 2010 sampai 2015. 2015 sebenarnya kita sudah siap produksi, tapi kita masih menunggu izin dari pemerintah. Kalau diasumsikan tidak ada masalah perizinan, dari produksi pertama tahun 2015, butuh waktu 5 tahun untuk mencapai peak produksi. Kapasitas produksi puncak tercapai di 2021," ungkap Hengky.

Itulah sebabnya Freeport sangat menginginkan kepastian perpanjangan kontrak dan stabilitas investasi untuk jangka panjang.

"Jadi bayangkan, untuk bisa mencapai produksi puncak butuh waktu dari 2004 sampai 2021. Di produksi puncak kita berharap bisa bertahan sekitar 5 tahun. Investasi block caving butuh waktu 10-12 tahun untuk persiapan saja," tutupnya. (mca/ang)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed