Follow detikFinance
Rabu 12 Apr 2017, 10:02 WIB

Ini Bahayanya Jika Produksi Tambang Bawah Tanah Freeport Terganggu

Michael Agustinus - detikFinance
Ini Bahayanya Jika Produksi Tambang Bawah Tanah Freeport Terganggu Foto: pool
Jakarta - Kegiatan operasi dan produksi di Tambang Grasberg, Papua, terganggu sejak 10 Februari 2017 lalu karena PT Freeport Indonesia (PTFI) tak bisa melakukan ekspor konsentrat. Berdasarkan aturan baru dari pemerintah, PTFI harus mengubah Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) jika ingin mendapat izin ekspor konsentrat.

Tetapi PTFI masih tetap ingin mempertahankan KK. Akibatnya, stok konsentrat menumpuk, produksi bijih mineral terpaksa dipangkas. Sampai saat ini, sebagian besar produksi di tambang bawah tanah PTFI masih terhenti. Pemerintah dan PTFI masih bernegosiasi untuk mencari solusi yang memuaskan kedua belah pihak.

Produksi bijih mineral mentah (ore) dari tambang bawah tanah PTFI yang dalam kondisi normal mencapai 50.000 ton per hari kini hanya tinggal 15.000 ton atau sekitar 25% saja.

VP Underground Mine Operations PT Freeport Indonesia, Hengky Rumbino, mengungkapkan bahwa situasi saat ini berbahaya bagi kelanjutan operasi dan produksi di Tambang Grasberg. Cadangan di tambang bawah tanah bisa hilang tertimbun akibat terganggunya kegiatan produksi.

Tambang bawah tanah PTFI menggunakan metode block caving, yaitu menggali terowongan menuju tempat cadangan bijih mineral di bawah tanah, meledakkan badan bijih hingga hancur di dalam tanah, lalu menariknya keluar secara bertahap lewat jalur-jalur terowongan yang sudah dibuat.

Dengan metode ini tegangan di bawah tanah diatur agar jangan sampai ambruk. Ibarat meja dengan 4 kaki, harus terus dibuat seimbang meski kaki meja dipotong satu per satu perlahan-lahan.

Metode block caving membutuhkan kontinuitas, produksi jangan sampai produksi terhenti dalam waktu lama. Ada risiko yang mungkin timbul bila produksi mengalami gangguan.

Dalam metode block caving, produksi ibarat maintanance alias perawatan. Ketika produksi terganggu, berarti perawatannya juga kurang. Badan bijih yang sudah dihancurkan di dalam tanah tetapi tidak segera ditarik keluar akan menciptakan akumulasi tekanan.

"Ini untuk jangka panjang tidak baik, suatu saat kita akan menghadapi kompaksi material, akumulasi tegangan. Yang kita lakukan sekarang hanya menunda saja. Kalau produksi di block caving terhenti, tidak ada kegiatan untuk merilis tegangan. Peningkatan tegangan ini mengakibatkan runtuhnya terowongan," kata Hengky kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (12/4/2017).

Risiko ini sudah pernah terjadi. PTFI kehilangan cadangan ketika tahun 2011 lalu para pekerja di tambang bawah tanah melakukan mogok kerja selama berbulan-bulan. 20% cadangan di DOZ tak bisa diambil lagi karena sudah terikat kembali.

Curah hujan tinggi membuat badan bijih yang sudah diledakkan di bawah tanah terkena air. Badan bijih mengeras lagi dan jadi sangat sulit untuk diambil.

Ada risiko lebih ekstrim yang dapat terjadi akibat terganggunya produksi dalam waktu lama, yaitu tambang bawah tanah kolaps. Bijih mineral yang mengeras karena terlambat ditarik keluar mengeras, membuat tekanan di dalam tanah semakin besar, lalu terowongan ambruk akibat tak bisa menahan tekanan. Ambruknya tambah bawah tanah berarti investasi dan cadangan mineral bernilai triliunan rupiah hilang.

"Pada saat terowongan sudah runtuh, kita akan sulit sekali mengakses cadangan itu. Batuannya sudah tidak semasif saat masih fresh, rekahannya sudah acak-acakan. Cadangan yang bisa kita ambil mungkin hanya tinggal 20-30% saja. Pengalaman kita di 2011, kita stop 6 bulan, kita kehilangan 30% cadangan," papar Hengky.

Karena itu, Hengky berharap pemerintah segera memberikan solusi supaya PTFI bisa kembali beroperasi normal.

"Kita berharap jangan berlama-lama. Sekarang yang kita lakukan adalah perawatan. Tapi ingat, perawatan yang kita lakukan, kita tidak bisa menarik secara bersamaan setiap hari. Prinsipnya ada 600 titik penarikan, 600 itu harus ditarik setiap hari. Kalau cuma ditarik misalnya 100 saja, 500 mengalami akumulasi tegangan," tutupnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed